28

Teman Anak Berlaku Kasar? Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua

Marah dan khawatir bercampur aduk jadi satu. Gejolak yang muncul karena anak sendiri menjadi korban temannya yang temperamental. Namun berbalik marah tetap tak menyelesaikan masalah. Ajari anak langkah yang bijak menghadapi kekerasan yang bersumber dari temannya.

Sebagai korban, anak dapat terkena beraneka bentuk kekerasan. Pukulan, tendangan, dan dikeroyok termasuk dalam kekerasan fisik. Sedang cacian, fitnah, diabaikan, dan panggilan dengan nama tertentu merupakan sebagian dari kekerasan mental. Umumnya, anak yang mengalami kekerasan dari temannya juga sekaligus menjadi korban perundungan.

Namun hindari berpesan pada anak agar mengalah atau melawan. Mengapa demikian? Mengalah sama saja dengan membenarkan apa yang telah dilakukan oleh temannya. Sedang tidak mungkin anak sendiri menerima kekerasan terus menerus. Terlebih bila mereka berada dalam satu kelas atau kegiatan yang sama.

Melawan dengan tindakan serupa juga tidak benar. Tindakan yang dilakukan temannya akan menjadi pedoman anak dalam membalas tindakan yang serupa di kemudian hari. Secara tidak langsung, mengajarkan anak meraih tujuan dengan cara-cara kekerasan.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan orang tua? Saat mendapatinya menjadi korban, dekatkan diri dan sampaikan pesan berikut ini.

Pergi ke tempat aman

Jangan bertahan di tempat yang rawan terjadinya kekerasan. Misalnya area sekolah yang sepi. Saat istirahat, anjurkan anak bergabung dengan teman-teman yang lain agar bisa saling melindungi dan berbagi. Namun, bila ada indikasi akan terjadi atau pasca terjadi tindakan tidak menyenangkan, segera menjauhkan diri. Mencari seseorang atau tempat yang lebih memberikan proteksi diri tidak mendapat kekerasan lebih jauh.

Berani melapor

Ajarkan anak untuk melapor dan bercerita apa yang telah dialami. Kepada pihak yang memiliki kuasa atas diri temannya. Contohnya guru di sekolah. Tetapi, saat anak berada di luar sekolah atau rumah, jangan ragu untuk berteriak minta tolong diiringi suara yang lantang. Bantuan akan cepat diberikan jika anak dapat menarik perhatian orang-orang sekitar.

Ekspresikan saja perasaanmu

Anak tidak perlu memendam rasa. Ia bebas mengekspresikan apa yang dirasa. Sedih, marah, kesal, malu, atau bingung harus bagaimana. Minimal, orang tua perlu menghargai apa yang dia rasa. Mendengar cerita sampai tuntas kronologi yang dialami hingga siap sepenuhnya menampung segala dukanya. Maka, anak punya pelarian yang tepat. Yakni, orang tuanya sendiri.

Apa solusi yang kamu punya?

Barangkali Anda sudah tahu solusi yang tepat, namun jangan terburu-buru dilakukan. Tanyakan pada anak apakah dia sudah mempunyai jalan keluar. Di mana mungkin lebih nyaman untuk dirinya sendiri dan memperkecil risiko dalam jangka panjang. Bantu anak menemukan konsekuensi yang harus ditanggung dalam tiap solusi yang dipilih.

Berani menghadapi

Anak harus berani menghadapi, bukan lari. Karena sampai kapanpun masalah akan terus ada, walau bentuknya berbeda. Meski tidak menyenangkan, anak harus menyadari kekerasan yang berasal dari teman bisa dianggap sebagai pelajaran hidup. Namun, sekali lagi, anak tidak boleh mengalah dan menyerah. Tindakan nyata harus dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri sendiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments