15

Mengusir Jenuh pada Remaja

Kebosanan atau kejenuhan yang melanda para remaja sebenarnya merupakan sifat psikologis yang alamiah. Ditujukan pada minat belajar, kegiatan di rumah, hubungan dengan sesama teman, dan sebagainya. Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak-anaknya?

Remaja masuk dalam kategori yang unik. Sudah tidak dapat dikatakan anak-anak, namun belum sepenuhnya dewasa. Usia yang dipenuhi jiwa eksplorasi dan punya semangat yang menggebu-gebu. Sekali tertarik pada hal baru, dia akan menekuni dengan serius. Merupakan sisi positif yang melekat pada diri mereka.

Di sisi lain, remaja juga membutuhkan pengakuan, ingin menjadi diri sendiri, mempunyai banyak permintaan, dan lain sebagainya. Saat dia berada dalam kondisi tidak ideal, sikap kontra mulai ditunjukkan. Seperti mendobrak aturan, melawan, merasa paling benar, serta masih banyak lagi.

Termasuk ketika remaja bosan. Sesuatu yang dulu dia sukai, kini dihindari. Tidak lagi menaruh minat atau mencoba mendalami lagi. Bahkan cenderung gonta-ganti hobi demi menemukan apa yang mereka sebut jati diri. Namun oleh sebagian orang, sifat yang demikian identik dengan labil. Jiwa yang masih bergejolak dan belum mantap memutuskan satu pilihan.

Apa yang dia inginkan?

Setelah orang tua mengetahui kenapa rasa bosan melanda, jangan berhenti begitu saja. Lanjutkan dengan pertanyaan, lalu bagaimana? Apakah kamu sudah punya solusi? Ajak anak keluar dari permasalahan, bukan membahas terus rasa kebosanan. Ketika solusi yang dia inginkan belum bisa Anda kabulkan, minta pengertian. Misalnya liburan atau membeli barang tertentu. Sebagai gantinya, mungkin Anda bisa menyuguhkan makanan kesukaan untuk sedikit mengembalikan mood anak.

Beri dukungan bukan sogokan

Mereka membutuhkan dukungan, bukan sogokan. Hal ini sering kali disalah mengerti oleh orang tua bahwa dengan memberi hadiah, rasa bosan akan hilang dengan sendirinya. Mungkin dengan pengertian, lebih banyak mendengar, pelukan hangat, atau memberi banyak waktu istirahat akan lebih baik untuk mereka.

Fokus pada situasi yang bisa diubah

Hindari terlalu cepat memberi label negatif, mencela, atau menyalahkan anak. Bila demikian, yang terjadi justru anak akan memberontak dan menganggap orang tua tidak mengerti kondisinya. Jadi, lebih baik bantu anak menemukan solusi untuk mengatasi kondisi yang sedang dihadapi. Contohnya, tidak mengambil les di akhir pekan agar bisa bermain futsal bersama teman-teman.

Bantu dia memahami kebutuhan saat ini

Orang tua juga dapat membantu menjelaskan kebutuhan saat ini yang terkadang tidak disadari oleh para remaja. Kebutuhan yang diremehkan, padahal sangat dibutuhkan untuk masa depan yang gemilang. Andaikan, anak lebih suka bermain game online tak masalah. Tapi anjurkan dia tetap memperhatikan porsi waktu belajar materi-materi di sekolah.

Bertahan untuk efek positif di masa mendatang

Adakalanya anak harus tetap bertahan, walau rasa bosan sangat kuat terasa. Bukan mengalah pada keadaan atau terus mencari kondisi yang paling membuat nyaman. Karena alam kehidupan, rasa bosan, sedih, dan bahagia akan datang silih berganti. Kelak saat dia bisa mengatasi kondisi bosannya, rasa kemenangan juga akan mengikuti. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments