23

Membuat Anak Rajin Sahur

Membangunkan anak untuk sahur sungguh tantangan tersendiri. Membutuhkan pendampingan dan bimbingan dari orang tua. Bila sahur dijalani dengan suka cita, kemungkinan besar anak-anak bisa menjalani puasa dengan ceria.

Untuk orang dewasa saja yang sudah berulang kali melakukan puasa tetap dianjurkan, sahur bagi anak-anak  wajib dikenalkan. Terutama anak-anak yang masih dalam tahap awal belajar puasa. Ibarat bekal makanan ke sekolah, sahur tak ubahnya bekal pengantar puasa.

Selain itu, menyantap hidangan kala sahur menjadi media belajar. Mengenalkan sebagian rangkaian ritual puasa di bulan suci. Hanya salah satunya, tapi sayang sekali bila terlewatkan. Orang tua juga dapat menyisipkan pesan moral, makna maupun alasan dibalik pentingnya sahur untuk dijalani orang berpuasa.

Walau nampak sebatas menyantap makanan, sahur umumnya berat dilaksanakan. Alasan klasiknya karena dilakukan saat jam istirahat malam masih berlaku. Perlu upaya memaksa mata untuk terbuka dan merangsang badan tergugah sedikit saja.

Meski demikian, tetap mudah membuat anak menyukai kegiatan sahur ini.

Mengatur jam tidur

Atur waktu anak-anak agar mendapat waktu yang cukup untuk beristirahat. Biarpun umumnya saat puasa sekolah diliburkan, anak tak perlu begadang. Segera tidur setelah selesai menjalani ibadah tarawih atau batasi kegiatannya di malam hari. Bila istirahatnya mencukupi, energinya mudah dikumpulkan untuk segera bangun dan memulai sahur.

Menyediakan makanan kesukaan

Supaya anak-anak makin tertarik, sediakan makanan kesukaannya. Trik sederhana untuk menciptakan suasana sahur akrab dan hangat. Tidak banyak berbeda seperti saat menyantap makanan di hari-hari biasa. Libatkan anak-anak dalam proses memasak dan menyiapkan makanan, agar mereka makin semangat.

Mengatur pola sahur

Atur pula jam sahur supaya menguntungkan anak-anak. Kalkulasi waktu yang dibutuhkan anak dari bangun hingga adzan subuh terdengar. Misalnya, Anda bisa membangunkan buah hati satu jam sebelum sahur berakhir. Anak tidak terlalu lama menunggu dan tidak terburu-buru menghabiskan seporsi makanannya. Disamping ada jeda beristirahat sambil mungkin sesekali menikmati camilan atau menambah asupan cairan.

Tanpa sogokan dan iming-iming

Hindari memberikan sogokan dan iming-iming hadiah. Tumbuhkan kesadaran dari dirinya sendiri. Sekaligus menanamkan nilai-nilai bahwa sahur dan puasa yang wajib dijalani tak harus ada imbalannya. Membiasakan anak terbuai oleh janji-janji, justru akan mempersulit diri sendiri. Tidak hanya saat ini, namun juga saat melatih anak berpuasa penuh di tahun-tahun mendatang.

Ingatkan keikhlasan

Sebaliknya, yang sangat penting diperhatikan adalah menumbuhkan rasa keikhlasan dan cinta melakukan sahur dan puasa. Ada makna yang hanya bisa dirasakan saat anak-anak menjalaninya tanpa paksaan. Ada rasa kepuasaan batin saat anak-anak berhasil melakukannya dengan sukarela. Dan ada rasa kecintaan saat anak-anak memahami arti dibalik itu semua.

Hargai kemampuannya

Hargai kemampuan anak. Baik kemampuannya menahan lapar dan dahaga saat puasa, maupun kemampuannya menjalani sahur. Jangan paksa anak selalu bangun di masa awal belajarnya. Hormati porsi yang dihabiskan kala sahur, karena mungkin anak belum terbiasa makan saat dini hari. Dan juga hal unik lainnya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments