18

Membatasi Efek Glamor Dunia Gaul Anak

Beda generasi, beda gaya gaul. Perbedaan tersebut bisa mendatangkan efek positif, tapi juga harus diakui ada negatifnya. Kerap menumbuhkan kekhawatiran orang tua terhadap budaya gaul anak-anak sekarang yang gemerlap. Ajakan hidup sederhana seolah sulit untuk diwujudkan.

Namun bukan berarti tidak bisa. Orang tua dapat menjadi contoh pertama dan memulainya dari rumah. Mengawali di usia dini dan konsisten di setiap tahap tumbuh kembangnya. Apalagi saat anak mulai mengenal relasi sosial, baik di sekolah maupun lingkungan yang lebih luas.

Saat anak tidak mengenal hidup sederhana, sebagai imbas kaburnya fungsi keluarga, anak akan cenderung mengikuti gaya hidup dari luar. Di mana berbiaya mahal dan bersifat konsumtif. Anak merasa harus update dalam segala hal agar tidak tertinggal dan tetap diterima di komunitasnya. Ujung-ujungnya, orang tua yang kerepotan memenuhi semua permintaan lifestyle-nya.

Buka dialog dari hati ke hati. Menemukan titik temu tentang aturan dan berbagai kesepakatan. Gaul boleh saja, asal sehat dan bermanfaat.

Hindari toxic relationship

Orang tua perlu menjelaskan toxic relationship dalam dunia pergaulan. Umumnya ditandai dengan tuntutan lifestyle yang homogen. Jika berbeda, anak akan dikucilkan. Pertemanan tidak harus dinilai dari barang kepemilikan. Ubah persepsi anak, bahwa gaul yang sehat merangsang manfaat dan prestasi. Bukan terbatas pada materi.

Ajak dia menabung

Ketika memang anak benar-benar menginginkan barang yang sama seperti temannya, ajak dia menabung. Menanamkan rasa perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tidak serta merta mendapat secara instan. Walau sebenarnya Anda bisa membelikan saat itu juga.

Keinginan dan kebutuhan

Ajak pula ia mengenal perbedaan keinginan dan kebutuhan. Bila memang sekadar untuk mengikuti tren, permintaan barang bisa ditunda. Namun bila memang dibutuhkan, harus ada upaya tertentu untuk didiskusikan bersama. Misalnya menunggu musim diskon, menggunakan barang lama yang masih bagus, membuat sendiri, dan sebagainya.

Berkaca pada mereka yang kekurangan

Daripada selalu membeli, lebih baik berbagi. Pada mereka yang membutuhkan dan berkaca pada yang kekurangan. Mengingatkan anak untuk selalu mensyukuri nikmat dan kelebihan yang diperoleh. Tidak terus mengejar produk paling baru, tetapi berpaling untuk mengerem diri sendiri.

Menghabiskan waktu tanpa biaya ekstra

Kebiasaan menghabiskan waktu dalam keluarga perlu dicermati lagi. Biasakan untuk menghilangkan budaya hedonisme dari rumah. Sesekali tak masalah makan bersama di luar, namun jangan menjadi kebiasaan. Orang tua dapat memilih taman, museum, dan perpustakaan sebagai lokasi berwisata, ketimbang selalu berkunjung ke mal di tiap pekan. Orang tua pun dapat berhemat, karena anak-anak tidak lekat dengan aktivitas berbelanja.

Hadir sebagai teman

Bila dia dikucilkan, maka hadirkan diri sebagai kawan. Teman yang bisa didatangi kapan saja dan berbicara apa saja. Tempat ia bisa mencurahkan isi hati karena sedang merana. Sebagai konsekuensi tidak memiliki barang-barang yang sama. Dengarkan dan tawarkan solusi yang bisa ditempuh bersama. Membatasi pelarian anak pada pihak dan cara yang salah. Sehingga anak pun punya benteng menghadapi glamornya dunia pergaulan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments