20

Ketika Anak Mempunyai Teman Berkebutuhan Khusus

Bukan hal mudah bagi anak berinteraksi dengan teman yang berkebutuhan khusus. Di sekolah, lingkungan rumah, atau dalam lingkup yang lain. Orang tua dapat hadir dan mendukung anak menjalin relasi yang sehat di antara keduanya.

Saat pertama kali bertemu dengan teman yang “berbeda,” mungkin anak enggan menunjukkan sikap positif. Namun bukan berarti menolak dan enggan berkomunikasi sama sekali. Anak membutuhkan waktu untuk mencerna perbedaan dan pelan-pelan menerimanya.

Di waktu-waktu krusial seperti inilah, orang tua semestinya hadir membantu anak mempercepat apa yang belum mereka pahami. Lebih tepatnya memperpendek waktu agar anak cepat mengadakan kontak dengan teman yang dianggap berbeda.

Sebab, manfaatnya banyak sekali. Berinteraksi dengan teman yang memiliki kebutuhan khusus dapat menjadi media pematangan jiwa sosial. Di samping menumbuhkan sikap toleransi dan tolong menolong pada teman. Anak bisa belajar mengerti dan memahami atas perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing.

Tampung aksi dan reaksinya

Di masa awal-awal perkenalan, jangan paksa anak langsung berkenalan dan berjabat tangan. Berikan anak waktu berpikir, mengamati, serta menyelidik kawan barunya. Tentu ada berbagai pertanyaan, keheranan, tidak suka, atau aneka rasa lainnya yang muncul dari benak anak sendiri.

Tunggu hingga dia bertanya pada Anda. Jawab segala pertanyaan yang diajukan. Mengapa temannya tidak merespon saat ditanya guru, mengapa temannya membutuhkan tongkat untuk berjalan, mengapa di telinga teman ada alat khusus yang dipasang, dan mengapa-mengapa yang lain. Respon dengan bahasa dan penjelasan yang sederhana. Sebuah gambaran yang mampu menanamkan pemahaman bahwa ada teman yang memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda.

Tetapi ketika anak diam saja, tidak berarti tidak ada masalah sama sekali. Orang tua harus proaktif bertanya guna melihat reaksi anak melihat teman yang berkebutuhan khusus. Ketahui lebih dalam apa yang dirasakan oleh anak, pendapatnya, obrolan serta permainan yang ingin dilakukan berdua, dan sebagainya. Ciptakan bayangan bahwa berinteraksi dengan mereka tidak ada masalah sama sekali. Justru akan seru dan lebih berwarna dari biasanya.

Beda dan unik

Karena fisik yang berbeda, banyak pula hal berbeda yang mengikuti diri mereka. Mungkin lebih lamban dan penuh kehati-hatian dalam melakukan aktivitas. Bukan sebagai kekurangan, tetapi keunikan yang harus diterima dan dihargai oleh kita semua.

Subjek, bukan objek

Teman dengan fisik yang berbeda bukan objek. Melainkan subjek yang kedudukannya sama pentingnya dengan teman-teman yang lain. Anak tidak boleh memberikan perlakuan tidak sopan dan melecehkan. Walau mereka membutuhkan bantuan, tapi ajarkan anak bertanya terlebih dulu. Misalnya, boleh aku bantu? Secara tidak langsung anak juga belajar respek dan toleran pada temannya.

Bukan bahan bercanda

Tekankan pentingnya menghindari teman yang berbeda sebagai bahan bercanda. Olok-olok yang tidak membawa manfaat sama sekali. Baik pada diri anak, teman satu kelompok, maupun pada teman yang sengaja disakiti. Tidak menambah jumlah teman, malah memperkeruh hubungan sehari-hari yang tentunya berpengaruh pada masa-masa belajarnya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments