29-4

Cerita Ulang dari Para Ayah ASI

Kisah Ayah ASI belum berakhir. Sabtu lalu (25/8) di MULA By Galery Jakarta Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mereka kembali ingin berbagi.

Tepatnya re-launching buku yang sudah pernah diterbitkan beberapa tahun lalu. Dengan judul yang terkesan agak memaksa, yakni Catatan Ayah ASI Ditambah-tambahin. Karena sebenarnya memang tidak banyak yang baru terkait isinya. Hanya menampilkan cover, desain, serta tambahan tulisan dari Omesh dan Ringgo. Selain itu, isi buku tetap sama seperti sebelumnya.

Cerita para istri mimin

Namun isi acara di luar dugaan para peserta. Selama satu setengah jam, peserta justru diajak tertawa dan bercanda. Tidak ada yang dibuat resmi. Semuanya terasa serba mendadak dan mengalir begitu saja. Membahas ASI dengan teramat santai.

Para istri Ayah ASI.

 

Acara yang dikemas sangat sederhana ini, di awal justru menampilkan para istri mimin. Sebutan bagi istri pencetus Ayah ASI. Sembari ingin memberikan apresiasi karena telah menyusui, para suami sebenarnya ingin mengetahui pandangan mereka tentang suaminya sendiri.

Lagi-lagi peserta diajak tertawa terpingkal-pingkal. Sebab jawaban yang dilontarkan para istri memang lucu. Walau begitu, mereka tetap berbagi pengalaman saat ada peserta yang bertanya tentang ASI dan cara menyapihnya.

Pencitraan yang positif

Dan inilah yang ditunggu-tunggu. Kehadiran delapan Ayah ASI yang telah dinanti-nanti. Ditambah bergabungnya Ringgo dalam acara tersebut semakin memeriahkan suasana.

Ayah ASI

Terlebih saat mereka menceritakan pengalaman menyapih anak masing-masing. Termasuk saat menjawab berbagai pertanyaan netizen di @ID_AYAHASI. Antara haru, ragu-ragu, sampai mengaku tidak tahu. Bukan perkara mudah, karena ASI memang pada dasarnya menjadi milik pribadi kaum hawa. Para ayah harus berhati-hati memberikan penjelasan atau keterangan. Supaya tidak salah dan menjadi sensitif.

Lalu jika tidak ada isi yang baru, mengapa dicetak lagi? Karena mereka ingin tetap berbagi. Itu saja. Walau sebenarnya mereka malas untuk menyediakan bahan yang baru. Hasilnya, buku tersebut mendapat kata “ditambah-tambahin.”

Selain itu, hasil penjualan seluruhnya akan disumbangkan pada korban gempa di Lombok. Mesti ditambah-tambahin, masih tergolong pencitraan yang positif kan?  (LAF)

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Lies Afroniyati

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments