02

Belajar Mengenal Emosi Bersama Keluarga Kita

Relawan Keluarga Kita Tangerang Selatan (Rangkul Tangsel) kembali mengadakan sesi bicara pada Sabtu (30/6) lalu. Kali ini bermateri Hubungan Reflektif, dengan topik Manajemen Emosi Diri.

Berlokasi di Kidee Childcare, Jalan Cut Nyak Dien II, Bintaro Sektor 7, acara ini diramaikan oleh para orang tua yang ingin belajar dan berbagi pengalaman bersama-sama. Ada yang datang lengkap bersama anak dan pasangan, ada pula yang sengaja datang sebagai bekal pola asuh bagi buah hati yang masih berada dalam kandungan.

Faktor luar yang berpengaruh

Ada beberapa faktor dari luar yang memengaruhi hubungan orang tua dan anak. Termasuk hubungan dengan keluarga. Sayangnya faktor-faktor tersebut tidak dapat Anda kontrol atau kendalikan. Fasilitator Rangkul Tangsel, Nurul Alfianti, menjelaskan. “Ada empat. Yaitu pola asuh di masa lalu, keunikan temperamen, pergaulan sosial di luar, dan perubahan zaman. Masing-masing memiliki pengaruh namun tidak dapat kita hindari,” ujarnya.

Memicu berbagai tanya, curhatan, dan masukan satu sama lain. Membuahkan solusi di antara peserta untuk memecahkan bersama-sama. Solusinya adalah butuh adanya kesepakatan dan kompromi untuk menghadapi semua faktor tadi. Kesepakatan yang harus dipatuhi orang tua dan anak. Namun sebelumnya perlu diawali komunikasi sebagai landasan regulasi.

Mengenali emosi diri

Peserta juga diajak untuk mengenali jenis-jenis emosi yang paling dominan pada diri. Di antaranya mudah marah, merasa bersalah, tidak enakan, khawatir, atau ingin dipuji. Emosi yang paling dominan mudah diketahui dari cara berinteraksi sehari-hari. Perasaan yang kadang mudah dirasakan saat berada dalam kondisi tidak sesuai harapan. Misalnya mendapati anak merusakkan mainan, dan lain sebagainya.

Penting untuk mengenali emosi diri sendiri. Sebab bila tidak, tentu akan sulit menemukan solusinya. Emosi yang membawa efek negatif bagi hubungan dalam keluarga. Dapat pula menjadi contoh buruk dan ditiru anak nanti.

Satu contoh sederhana. Seorang ibu akan cepat marah saat dirinya merasa lelah. Maka ibu telah mengetahui emosi paling dominannya, yaitu mudah marah. Ungkapkan perasaan pada suami atau keluarga guna mencari solusinya. Mungkin ibu membutuhkan istirahat yang lebih lama, tidak perlu menyelesaikan sebagian pekerjaan rumah tangga, atau membutuhkan bantuan suami mengurus anak-anak selama beberapa saat saja.

Saat emosi terkenali, orang tua lebih bisa mengendalikan diri. Dalam bertindak dan berlisan. Semata-mata demi perkembangan anak yang lebih baik lagi.

Harapan ke depan

Ada banyak harapan besar yang diimpikan oleh para peserta. Menjalani peran sebagai orang tua yang lebih siap dengan tantangan ke depan. Mampu mengenali kebutuhan diri sendiri tanpa melupakan kebutuhan anak dan keluarga.

Dan juga, sepakat bahwa pola asuh anak tidak bisa dijalankan oleh orang tua semata. Perlu ada kesepakatan yang terjalin dengan kakek nenek, pengasuh, keluarga besar, atau siapa saja yang terlibat langsung dalam mengawal proses pertumbuhan buah hati. Guna menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan bekalnya agar kelak dapat mandiri saat berpisah dengan orang tua. (LAF)

Foto: Etalase Bintaro/Lies Afroniyati

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments