06

Lakukan Ini Ketika Melihat Kekerasan pada Anak di Lingkungan Kita

Kekerasan pada anak meningkat selama pandemi. Berdasarkan data Penetapan Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana (PPSKTDB), kekerasan tersebut meningkat sekitar 15% dibanding sebelum pandemi.

Mirisnya, kekerasan pada anak tersebut justru sebagian besar dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, seperti orang tua atau kerabat dari anak tersebut. Seperti yang baru beberapa bulan lalu ramai diberitakan, yaitu kekerasan pada seorang balita oleh orang tua angkatnya di Tangerang Selatan.

Baca juga: Dampak Nyata Kekerasan pada Anak

Penyebab kekerasan pada anak tak jauh dari alasan ekonomi. Pandemi memang membuat ekonomi melambat. Orang tua pun stres karena memikirkan masalah keuangan keluarga. Terlebih anak juga belajar di rumah, sehingga terjadi interaksi yang intens antara orang tua dan anak.

Beban tersebut bila tidak disikapi secara dewasa oleh orang tua, bisa menyebabkan emosi yang tak terkendali. Anak sebagai makhluk terdekat dan tak berdaya sangat berisiko menjadi korban pelampiasan emosi.

Sebagai bagian dari masyarakat, ada beberapa hal yang perlu dilakukan bila menemukan tindak kekerasan pada anak di lingkungan sekitar kita. Terlebih bila terjadi pada tetangga dekat. Jangan dibiarkan, karena bisa merusak masa depan anak. Tapi juga tidak boleh terburu-buru bertindak karena bisa membuat gaduh kehidupan bertetangga.

Hindari melakukan tindakan yang memancing emosi pelaku

Apalagi bila hal tersebut dilakukan oleh orang tua anak. Daripada membuat pelaku tambah emosi dengan memarahi atau mengomelinya, lebih baik tenangkan pelaku. Bila merasa tak  bisa menahan emosi, segera beri tahu pihak-pihak yang bertugas menangani situasi, seperti petugas keamanan atau ketua RT/RW. Atau warga yang dituakan dan dihormati di lingkungan tersebut.

Tanyakan penyebab pelaku melakukan kekerasan

Tanyakan dengan sabar kronologi terjadinya kekerasan tersebut. Dengan mengetahui penyebabnya kita bisa memberikan solusi. Mengajukan pertanyaan juga dapat mengalihkan pelaku dari tindakan kekerasan tersebut.

Baca juga: Menolong Korban KDRT Saat Pandemi

Beri bantuan

Setelah mengetahui penyebabnya, misalnya anak rewel tidak mau makan sedangkan orang tua harus bekerja, Anda bisa menawarkan bantuan mengajak anak bermain sebentar sementara orang tua bekerja. Tawarkan bantuan semampu Anda, atau minta tolong kepada tetangga lain yang lebih bisa membantu.

Tenangkan anak

Bicaralah dengan anak untuk menenangkannya. Dengan menenangkannya, risiko trauma pada anak bisa diperkecil. Bila perlu, ajak anak menjauh sejenak dari pelaku. Bisa dengan mengajaknya jalan-jalan sekitar perumahan, atau bermain di taman komplek. Tindakan ini juga memberi waktu bagi pelaku untuk meredakan emosinya.

Baca juga: Pendekatan Usai Bertengkar di Depan Anak

Awasi

Perhatikan situasi rumah anak tersebut tinggal, apakah masih ada indikasi terjadinya kekerasan pada anak. Hal tersebut juga bisa dilihat dari kondisi fisik anak, apakah ada luka atau lebam di tubuhnya. Bila kekerasan tersebut berulang atau terjadi berkali-kali, sebaiknya laporkan ke pihak berwajib. Sertakan deskripsi dari pelaku dan anak, serta kalau bisa tanggal berapa saja kekerasan terjadi. Bila perlu, libatkan ketua RT/RW ketika melakukan pelaporan. (YBI)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

 

 

Comments

comments