03-2

Bila Harus Mem-PHK, Kriteria Karyawan Seperti Apa yang Diperhitungkan?

Biarpun sedang marak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), tapi sebenarnya tidak mudah untuk membuat keputusan tersebut. Apalagi pengusaha harus menentukan karyawan mana yang mesti dilepas.

Ada banyak dilema yang harus dihadapi. Tidak hanya melulu tentang nasib jangka panjang perusahaan itu sendiri agar bisa terus bertahan. Melepas karyawan juga kerap disertai pilihan sulit. Terlebih mereka sudah lama ikut membangun usaha dan tidak kenal lelah bekerja. Memutuskan pekerjaan sama saja dengan menutup mata pencaharian. Ada orang-orang di belakang karyawan yang juga tidak boleh dilewatkan.

Baca juga: Mengamankan Finansial Saat PHK Di Depan Mata

Karena itu, tega tidak tega, pengusaha harus membuat kategori yang jelas dan melepaskan urusan emosi sejenak. Supaya siapa saja yang terkena PHK memang hasil keputusan yang tepat serta jernih. Sehingga karyawan dengan kualitas unggul tetap bertahan dan bersama-sama berjuang lagi.

Yang selama ini tidak mau berkontribusi lebih

Pilah dengan mencermati kembali mana karyawan yang selama ini tidak mau berkontribusi lebih. Bahkan sejak sebelum pandemi melanda. Mereka hanya mau melaksanakan yang ditugaskan saja, tanpa mau urun tangan ketika situasi di perusahaan di luar kebiasaan. Walau sekadar menyumbang ide. Jadi lepas saja. Karena kontribusi lebih di situasi seperti ini sangat dibutuhkan.

Pekerjaannya bisa di-outsource

Lihat baik-baik mana sekiranya jenis pekerjaan di perusahaan yang dapat dialihkan atau di-outsource kan. Sementara ditiadakan terlebih dulu atau ditangani oleh bagian yang lain atau justru diri sendiri. Kategori ini akan sangat membantu pengusaha dalam membuat keputusan mengurangi karyawan dengan tepat.

Baca juga: Hindari Toksin Dalam Relasi Kerja

Tidak bisa bekerja dalam tim

Karyawan yang memang sejak dulu tidak bisa bekerja dalam tim sebaiknya di PHK saja. Mengingat ketidakcakapannya dalam bekerja akan menghambat yang lainnya. Khususnya saat pandemi dan krisis begini. Kekuatan tim dalam perusahaan menjadi modal yang tidak terelakkan. Andai sampai terganggu terus oleh karyawan-karyawan yang tidak bisa bekerja sama, nyawa perusahaan yang menjadi taruhan.

Rekam jejak kurang positif

Begitu pula dengan yang punya rekam jejak kurang positif. Mulai dari terkenal sebagai toxic people, tidak dapat membangun harmoni dengan rekan-rekan lain, indisipliner alias suka mengabaikan aturan-aturan di kantor, pernah ada catatan kriminal yang tindak tanduknya kini belum bersih sepenuhnya, atau rekam jejak lain. Jangan ragu untuk melepaskan. Sebab tabiat seseorang belum tentu langsung berubah hanya karena mendengar isu adanya PHK.

Lebih merdeka dalam finansial

Gunakan kategori lebih merdeka dalam finansial. Terutama saat semua karyawan yang ada sepenuhnya baik dan loyal pada perusahaan. Mereka yang punya ketahanan finansial akan lebih mudah bertahan dibanding yang tidak. Contohnya masih single dan tidak punya tanggungan dibanding seorang ayah yang mempunyai tiga anak masih kecil-kecil.

Baca juga: Tips Menghadapi Krisis Bagi Pekerja 50 Tahun Ke Atas

Peluang mendapat kerja baru masih besar

Pakai pertimbangan adanya peluang bagi karyawan tertentu lebih mudah mendapat pekerjaan baru ketimbang yang lain. Misalnya punya pengalaman lebih dengan memegang ijazah strata-2, pernah memegang jabatan strategis, dan sejenisnya. Meski berat, melepas mereka tidak berbeda jauh hanya dengan memberi kesempatan untuk berkarier di tempat lain. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments