17-2

Pendekatan Usai Bertengkar di Depan Anak

Berselisih paham sampai bertengkar di depan anak kadang tidak bisa dihindari. Padahal jelas dampaknya tidak main-main bagi mereka. Karenanya, segera lakukan pendekatan untuk mendekatkan hubungan kembali.

Sebab anak yang sudah terlanjur melihat pertengkaran orang tua, walau dalam skala ringan dan jarang, tetap merasakan efek tertentu. Seperti takut, menghindari orang tua di berbagai kesempatan, stres, bingung, trauma, hingga depresi. Tidak sedikit anak yang mencari pelampiasan di luar akibat tidak menemukan keharmonisan dalam keluarga, buah dari pertengkaran orang tuanya.

Baca juga: Mengapa Kakak Dan Adik Sering Bertengkar?

Untuk itu dibutuhkan segera penanganan, terutama dari orang tua itu sendiri. Mulai dari sebisa mungkin mengontrol emosi di segala kesempatan, mencari tempat yang lebih pantas untuk menyelesaikan konflik dibanding di depan anak, serta berpikir ulang sebelum benar-benar spontan bertengkar dengan pasangan. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kekondusifan iklim rumah yang damai setiap hari.

Bicara dalam sikap tenang

Ketika orang tua sudah tenang, jangan tunda, segera ajak anak bicara. Bisa dilakukan oleh salah satu atau keduanya. Ingat, awali dengan ajakan yang ramah agar anak juga merasa tidak terancam. Atau dalam suasana khusus, seperti waktu bermain dan menjelang tidur. Upaya untuk menunjukkan bahwa anak bukan sasaran dari pertengkaran orang tua, sekaligus memimalisir dampak yang semakin besar pada anak.

Tanyakan perasaannya

Tanyakan pula apa yang dirasa oleh anak. Biarkan ia mengungkapkan sesuai bahasanya. Akan tetapi jangan dipaksa jika anak belum mau. Terkadang anak juga butuh waktu untuk bisa mengekspresikan diri. Dari menanyakan emosi, orang tua juga dapat segera memikirkan jalan keluar. Karena bisa saja, emosi anak di luar ekspektasi.

Baca juga: Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Setelah Anak Bertengkar

Minta maaf

Untuk mendekati anak lagi, jangan ragu atau gengsi minta maaf. Anak juga membutuhkan pengakuan tersebut dari orangtuanya sendiri. Kerendahan hati yang menunjukkan orang tua juga dapat salah atau khilaf. Apalagi bila disertai pelukan hangat. Pikiran anak yang sebelumnya penuh dengan takut langsung hilang sirna.

Beri penjelasan

Lalu beri penjelasan mengapa ayah dan ibu bertengkar. Sesuaikan saja dengan usia serta nalar anak. Tak perlu menerangkan semua bagian bila memang kurang pantas untuk diceritakan. Sehingga anak dapat turut memahami mengapa orang tua bisa berselisih paham. Hal ini juga untuk mengajarkan mereka tentang mengenali masalah, mengendalikan emosi, dan menghargai kebutuhan diri sendiri maupun orang lain.

Anak perlu tahu jalan keluar

Anak selalu berharap orang tuanya baik-baik saja. Jadi beritahu tentang kondisi teranyar. Apakah memang sudah berdamai atau masih ada masalah tapi dalam tahap penyelesaian. Sehingga sekalipun masalah belum tuntas, anak turut memahami akan sebuah proses.

Baca juga: Berdamai Dengan Orang Tua Teman Anak Saat Ada Pertengkaran

Tak perlu jadi sempurna

Di samping itu, tak perlu jadi orang tua sempurna. Bersikap saja yang sebagaimana mestinya pada anak, terutama setelah bertengkar dengan pasangan. Bukan dengan menganggap angin lalu atau mengabaikan perasaan mereka. Yang berlalu biarlah berlalu. Asal setelah ini mau untuk terus belajar mengendalikan emosi dan berpikir sebelum anak tertimpa dampak buruknya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments