21-2

Langkah Yang Diambil Pengusaha Saat Tak Sanggup Bayar THR

Salah satu momok yang terus berulang menjelang Lebaran adalah perihal THR. Apalagi sejak tahun lalu pandemi yang menyerang membuat para pengusaha kesulitan untuk membayar. Meski demikian, diharapkan ada langkah-langkah konkrit agar kewajiban THR tetap terpenuhi.

Kementerian Ketenagakerjaan sendiri telah mengeluarkan kelonggaran bagi pengusaha yang tidak mampu membayar tunjangan hari raya (THR) keagamaan akibat dampak pandemi. Yakni diatur dalam Surat Edaran Menaker RI Nomor M/6/HK.04/IV/2021. Pengusaha diminta untuk beriktikad baik memenuhi THR paling lambat sebelum hari raya keagamaan 2021 atau minimal H-1. Jika terlambat akan ada denda yang menanti plus tidak menghapus kewajiban tentang THR yang telah ditetapkan.

Baca juga: Agar THR Tak Sekadar Numpang Lewat

Keputusan tersebut mendapat banyak tanggapan. Beberapa pengusaha yang tergabung dalam asosiasi mengungkapkan keberatan dengan adanya putusan tadi. Mengingat tidak semua pengusaha mampu memenuhi walau ada perpanjangan waktu. Terlebih pandemi tak kunjung usai yang dibarengi kondisi tidak menguntungkan lainnya. Seperti cash flow masih sangat rendah, angka pembelian belum normal, ongkos produksi, biaya pajak, sewa tempat, dan sebagainya.

Komunikasi

Tenggat waktu makin mendekati. Umumnya THR mulai cair sejak dua minggu sebelum hari raya. Sudah pasti pekerja beserta keluarganya sangat menanti. Andaikan memang tidak kuasa memenuhi, setidaknya pengusaha masih dapat menempuh jalan lain. Yaitu lewat komunikasi.

Mengabarkan ketidaksanggupan dan kemungkinan keterlambatan pembayaran uang tunjangan sedini mungkin. Mulai dari surat pemberitahuan resmi hingga mengadakan pengumuman tatap muka.

Mengapa komunikasi ini penting? Jawabnya adalah untuk mengurangi resistensi yang seringkali muncul ketika hak-hak karyawan atau pekerja tidak terpenuhi oleh pengusaha. Sangat mungkin dampaknya lebih mengkhawatirkan jika dibanding pengusaha lebih dulu berinisiatif terbuka.

Mediasi dan negosiasi

Dalam proses mediasi dan negosiasi, pengusaha sangat perlu menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Bahwa ada ketidaksanggupan membayar uang tunjangan terkait hari raya keagamaan.

Dengan menyertakan bukti-bukti pembukuan keuangan perusahan yang teranyar.

Yang mana nantinya dapat dibahas dan didiskusikan bersama. Jadi, bukan bertemu hanya untuk sekadar menyampaikan kabar semata.

Baca juga: Langkah Mudah Menghitung Pajak Sendiri

Selain itu, tak usah sungkan membuat jalur negosiasi. Pengusaha dapat mengajukan beberapa pilihan pada karyawan, yang nantinya paling mungkin untuk dipenuhi bersama. Misalnya mengulur kembali waktu pembayaran sesuai kesepakatan meski sudah ada aturan sah yang mengikat. Terpenting bagaimana membangun diskusi yang sehat dan tujuan terpenuhi. Karena sekarang ini tak hanya para pekerja yang sedang pelik, pengusaha juga tak kalah runyamnya.

Skema angsuran

Atau dapat pula mengajukan skema angsuran. Mencicil jumlah nominal tunjangan dalam beberapa tahap hingga lunas. Jika masih belum memungkinkan untuk semua pekerja, status dan posisi yang lebih membutuhkan dapat diprioritaskan. Sementara pekerja dengan kondisi finansial yang lebih aman diharapkan dapat menunggu.

Baca juga: Hak Kita Sebelum Pamit Undur Diri

Sekali lagi, hampir setiap daya tawar sering menemui banyak ganjalan. Apalagi berhubungan dengan pemasukan dan hajat hidup orang banyak. Tapi bila diselesaikan secara kekeluargaan dan saling respek satu sama lain, kiranya akan menemukan hasil yang lebih bersahabat. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments