07

Dampak Bullying Bagi Pelaku

Dalam tindakan perisakan atau bullying, sebenarnya yang menerima dampak bukan hanya korban saja. Pelaku juga turut merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Bahkan terasa dalam jangka panjang.

Apalagi jika tindakan perisakan pada orang lain tetap diteruskan. Atau pelaku tidak tahu cara memperbaiki sikap, menebus dosa, terapi, dan sebagainya. Meski pada dasarnya sudah menyadari perbuatan yang dilakukan adalah salah. Termasuk tidak ada upaya penyadaran dan dukungan agar pelaku jera. Tindakan pengabaian dan pembiaran akan semakin meningkatkan level dampak bagi pelaku itu sendiri ke depannya.

Baca juga: Bila Anak Kita Jadi Pelaku Bully

Dari masalah psikologis hingga perilaku dan tutur kata sehari-hari. Semuanya tampak seperti akumulasi perbuatan yang dulunya tidak mendapat penanganan secara optimal. Hingga kemudian membuat pelaku, secara sadar atau tidak, menunjukkan gejala-gejala gangguan.

Dihantui rasa bersalah

Salah satunya adalah dihantui rasa bersalah. Dengan catatan, baru terasa bila pelaku menyadari perundungan yang dilakukan pada korban sebelumnya merupakan sikap yang tidak dibenarkan. Ada rasa menyesal yang mendalam, bersalah, kadang bercampur merasa hina, dan sebagainya.

Dari dihantui perasaan bersalah, beragam emosi negatif ikut menghampiri. Dan kemungkinan bertahan lama dalam diri pelaku. Khususnya bila tidak diikuti dengan jalur pemulihan yang tepat. Pelaku bullying amat rentan terjebak dalam jurang perasaan bersalah dalam waktu lama dan sulit diajak untuk bangkit.

Baca juga: Pemicu Anak Jadi Pem-Bully

Rendah diri dan kurang percaya diri

Selain itu juga menjadi pribadi yang berubah ke tipe rendah diri dan kurang percaya diri. Sehubungan dengan perasaan bersalah tadi, yang membuatnya terpuruk. Dalam keseharian atau aktivitas tertentu, pelaku cenderung menghindar. Sebagai imbas minimnya asa dan antipati lingkungan terdekat akibat ulahnya.

Pada tahap ini, pelaku juga merasa dirinya tidak pantas dihargai atau diapresiasi. Seolah dengan menerima kondisi sekarang yang apa adanya, tanpa perlu meningkatkan kualitas hidup, sudah dianggap sebagai bentuk penyesalan dan pertobatan atas dosa-dosa di masa lalu.

Perilaku menyimpang

Aggression Arguing Conflict Stress Fight

Akan tetapi, ketika pelaku tidak menyadari bullying sebagai kekeliruan dan malah menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, maka nantinya mengarahkan pada perilaku yang menyimpang. Seperti gemar bertengkar atau tawuran, spontan melakukan kekerasan pada pasangan atau orang-orang terdekat, kecanduan narkoba dan seks bebas, mulai menyakiti diri sendiri, serta sejenisnya.

Kurang empati

Pelaku juga bakal kesulitan merasakan empati pada orang lain. Apa yang menurutnya asing dan tidak sesuai dengan standar dirinya, akan dipandang sebelah mata, lalu sebisa mungkin dirundung. Sehingga pelaku kemudian dikenal sebagai pribadi yang egois, enggan turun tangan, pilih-pilih teman, tidak punya simpati, susah bersosialisasi, golongan yang eksklusif, dan lainnya. Tak ayal bila kelak pelaku juga gagal dalam studi, kesulitan menemukan bakat dan minat, serta sulit menemukan profesi yang cocok.

Baca juga: Membantu Anak Bangkit Dari Cyberbullying

Agresif dan selalu kompetitif

Dampak berikutnya yakni cenderung agresif dan selalu kompetitif hampir dalam setiap bidang. Lantaran terpicu oleh keinginan menjadi unggul dibanding orang lain. Akibatnya, pelaku bukan orang yang gampang untuk diajak kolaborasi dan membuka diri. Lebih tepatnya dikenal sebagai pribadi yang gila kuasa, sok tahu, dan ingin menjadi nomor satu. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments