17

Memutus Mata Rantai Generasi Sandwich Pada Anak

Ada saatnya mata rantai sebagai generasi sandwich mesti diputus. Tak diteruskan atau diwariskan pada anak-anak kita nanti. Mengingat ada sisi memberatkan dalam urusan finansial.

Walau tidak semuanya terbebani, namun kebiasaan menggantungkan diri di masa pensiun pada belas kasih anak sebaiknya dihindari. Biarkan anak menikmati hasil jerih payahnya untuk meraih cita-cita yang belum teraih. Apalagi ketika nanti anak sudah punya keluarga kecil sendiri. Ada pasangan dan anak yang juga perlu dipenuhi kebutuhannya.

Baca juga: Manajemen Finansial Bagi Generasi Sandwich

Karenanya, kunci untuk mengakhiri generasi sandwich terletak pada orang tua itu sendiri. Bagaimana nantinya dapat hidup mandiri, khususnya dari sisi keuangan. Bukan menjadi tanggungan, memberatkan, atau justru memaksa anak untuk selalu memberi. Di mana kemandirian tersebut perlu direalisasikan dalam aksi-aksi nyata. Supaya kelak, saat orang tua kian menua dan anak mulai berpenghasilan sendiri, label sebagai generasi sandwich tak sempat menghampiri.

Bijak mengelola finansial

Mulai saat ini selalu kelola finansial dengan bijak. Alokasikan setiap angka yang dihasilkan dalam pos-pos yang jelas. Berapa persen yang perlu dibelanjakan, ditabung, diinvestasikan, juga untuk diamalkan. Tak lupa menghitung kebutuhan uang sekolah anak, dana liburan, utang piutang, penggunaan maksimal kartu kredit dan uang elektronik setiap bulannya, serta berbagai macam kebutuhan yang sekiranya perlu diadakan.

Buat hingga mendetail agar jalannya keuangan tahu ke mana arahnya. Jalankan sesuai rencana. Tak masalah bila sesekali ada pengeluaran berlebih. Asal tetap terkendali dan tidak mengganggu fluktuasi keuangan secara signifikan.

Baca juga: Mengapa Para Milenial Sulit Menabung?

Punya tabungan jangka panjang

Pikirkan pula untuk punya tabungan berjangka panjang. Bentuknya dapat bermacam-macam. Misalnya menyisihkan sebagian pemasukan tiap bulan untuk dikumpulkan sebagai dana darurat. Atau mengambil opsi membeli logam mulia, investasi dalam rupa saham atau reksadana, deposito, dan masih banyak lagi.

Adapun sifatnya lebih ke arah dana yang menganggur. Sengaja dipersiapkan untuk hari tua, bukan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, tahan diri andai memang sudah terakumulasi untuk tidak menggunakannya sedikit demi sedikit. Tak terasa lalu habis sama sekali.

Punya agenda untuk masa pensiun

Agendakan seperti apa masa pensiun nanti. Apakah benar-benar ingin berhenti bekerja dan mulai hidup dengan tabungan yang sudah terkumpul. Atau tetap bekerja dengan profesi lain yang tetap menghasilkan. Terpenting setiap agenda membuat Anda bisa mandiri tanpa, lagi-lagi, menggantungkan masalah finansial pada anak.

Terjamin asuransi

Upayakan dari sekarang tercatat dalam keanggotaan asuransi. Seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kematian. Jaminan yang akan menyelamatkan masa tua dari ketidakberdayaan diri pada uang. Kalau memang tidak sampai bisa menikmati hasilnya, paling tidak bisa menggaransi kehidupan pasangan dan anak lebih baik.

Baca juga: Cara Diplomasi Generasi Sandwich Saat Menolak Paksaan Orang Tua

Melatih mental untuk mandiri

Serta yang tak boleh dilupakan adalah melatih mental untuk mandiri. Baik pada diri sendiri maupun pada anak. Hapus kebiasaan meminta dengan embel-embel apapun. Meski dalam norma sosial dianggap wajar.

Selama diri masih bisa memenuhi, tak ada salahnya berupaya sendiri. Agar orang tua dan anak sama-sama dapat hidup berdikari. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments