01

Resiko Nikah Beda Agama

Banyak pasangan beda keyakinan memutuskan bersatu lewat ikatan pernikahan. Sebuah keputusan yang berani dan penuh resiko. Sebab baik di sini maupun di banyak negara, pernikahan beda agama selalu diikuti dengan berbagai tantangan.

Dalam buku Til Faith Do Us Part: How Interfaith Marriage is Transforming America, sang penulis Naomi Schaefer Riley melakukan survei pada 2.450 pasangan Amerika yang melakukan pernikahan beda agama. Hasilnya, yang kemudian dimuat dalam buku tadi, masalah utama yang dialami dari para pasangan tersebut adalah cenderung menikah tanpa memikirkan dampak di belakangnya.

Baca juga: Rahasia Pernikahan Tetap Mesra Selama Di Rumah Saja

Ia juga menambahkan bahwa rata-rata 58 persen pernikahan antar-agama dilakukan oleh rentang usia 26-35 tahun. Di mana mayoritas tidak serius memandang agama sebagai sesuatu yang penting. Akan tetapi, untuk dalam negeri belum ada data yang menunjang.

Rumitnya birokrasi

Salah satunya disebabkan oleh rumitnya birokrasi. Pada dasarnya negara tidak melarang dan sudah diatur dalam yurisprudensi MA (Putusan No. 1400K/Pdt/1986), yang membolehkan pernikahan beda agama berlangsung dan dicatat oleh Kantor Catatan Sipil. Sayangnya tidak semua kantor mau menerima.

Alhasil tidak jarang pasangan beda agama menikah di luar negeri untuk mendapat Certificate of Marriage dari negara yang bersangkutan. Sertifikat selanjutnya didaftarkan ke KBRI negara perwakilan atau yang ada di dalam negeri, dan diteruskan ke Kantor Catatan Sipil.

Banyak pula yang menempuh cara dengan tunduk pada pengesahan pernikahan menurut salah satu agama. Misalnya akad nikah sesuai Islam atau pemberkatan sesuai Kristen. Metode yang bertujuan agar pernikahan dianggap legal secara hukum dan mendapat buku nikah yang sah.

Baca juga: Sumber Perselisihan Menantu Dan Mertua

Keluarga besar

Resiko lain yang tak hanya rumit tapi juga pelik adalah pada faktor keluarga kedua belah pihak. Saat salah satu atau keduanya tidak menyetujui, ke depan akan sulit mendapat penerimaan yang utuh. Serta terus dibuntuti oleh aneka masalah yang sangat mungkin membayangi selama kehidupan pernikahan berlangsung. Tak hanya berdampak pada diri pasangan saja, tapi juga pada diri anak kelak.

Agama anak

Tantangan berikutnya ada pada agama anak. Anak akan ikut keyakinan siapa? Bukan hal aneh apabila anak mengalami kebingungan. Terlebih bila tidak ada komunikasi dan diskusi mengenai agama serta latar belakang ayah ibunya bertekad hidup dalam perbedaan. Bila tidak ada kesepakatan, tindakan memaksa, atau membebaskan tanpa ada pengarahan, sederetan masalah lain akan siap muncul ke permukaan.

Hidup tak nyaman

Bagaimanapun keyakinan adalah hal yang amat mendasar dan dianggap benar. Sementara tak mudah hidup dengan orang yang menjalankan nilai-nilai yang sebenarnya dianggap salah. Sedikit banyak mesti berkompromi dengan menekan emosi yang pastinya cukup berat. Belum lagi mesti bersiap bila lantas dikucilkan dari lingkungan sosial dan pergaulan.

Baca juga: Sumber Perceraian Dalam Rumah Tangga Yang Perlu Diwaspadai

Rentan perceraian

Menurut buku yang sama, pernikahan beda agama memiliki resiko perceraian tiga kali lipat lebih banyak dibanding pernikahan seagama. Umumnya bersumber dari perselisihan mendasar berkaitan dengan ajaran masing-masing yang membuat rasanya sulit menciptakan harmoni dalam rumah tangga. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments