27

Pengawasan Saat Anak Bermain TikTok

Saat ini, sepertinya kita tak hanya diserang oleh Corona. Tapi juga oleh wabah TikTok yang hampir mengenai semua kalangan. Namun bagaimana jika sampai anak-anak ingin ikut bermain?

Pastinya orang tua perlu menerapkan mekanisme khusus saat anak mengakses platform media sosial satu ini. Meski kesannya sekadar hiburan atau membuat video lucu-lucuan, namun banyak bahaya yang mengintai. Terlebih dari konten video yang dibuat, dapat dibagikan ke platform media sosial yang lain. Dari situ bisa terus dapat tersebar bebas. Data pribadi anak, foto, dan videonya rawan untuk disalahgunakan.

Baca juga: Hak Anak Yang Sering Dilanggar Orang Tua

Di samping itu orang tua perlu menyadari bahwa pada dasarnya TikTok memiliki aturan batasan umur pengguna. Sama seperti media sosial lain. Minimal berumur 13 tahun dan bila di bawah angka tersebut ingin membuat akun mesti ada izin dari orang tua.

Maka pikir masak-masak sebelum melibatkan anak aktif dalam TikTok. Apalagi membuatkan akun khusus, mengajak anak rutin membuat konten, atau anak telah memiliki akun serta mampu mengoperasikannya sendiri. Proteksi digital dari orang tua sangat diperlukan, ketimbang di kemudian hari mendulang penyesalan. Seperti kasus anak SMP yang dikeluarkan dari sekolah karena membuat video TikTok sedang menginjak raport.

Akses bersama

Sehubungan dengan aturan yang diberlakukan, maka ada baiknya orang tua dan anak sama-sama mematuhi. Tidak membuatkan akun tersendiri. Namun, bagaimana dengan anak yang sudah terlanjur punya? Lakukan akses bersama. Jika anak belum punya, gunakan saja akun orang tua.

Dampingi anak ketika membuka TikTok. Buat kesepakatan untuk tidak membuka sendiri meski anak sudah bisa melakukannya dengan mandiri. Dengan bersama, orang tua akan tahu aman tidaknya apa yang diakses oleh anaknya.

Awasi saat membuat konten

Awasi pula saat membuat konten. Sesuaikan dengan kepantasan usia dan tumbuh kembangnya. Hindari muatan yang memang hanya ditujukan golongan dewasa, bernada rasis serta melecehkan, atau mengikuti challenge yang sifatnya membahayakan. Seperti rentan menimbulkan trauma fisik atau bahan empuk sasaran pihak yang kerap merundung di dunia cyber.

Baca juga: Bantu Anak Bangkit Dari Cyberbullying

Hati-hati dalam lisan dan penampilan

Bekali anak agar hati-hati dalam menjaga lisan dan penampilan. Sampaikan tutur kata yang netral dan secukupnya. Sama halnya dengan penampilan. Jangan terlalu mengekspos bagian fisik anak, terutama bagian tubuh yang dinilai vulgar untuk dipertontonkan. Saat menirukan gerakan tarian, umpamanya, cermati apakah anak sudah patut untuk mengikuti atau belum.

Aktifkan fitur pembatasan

Aktifkan fitur pembatasan yang kini sudah terpasang di platform TikTok. Bernama Family Pairing. Lewat fitur ini, batasan dapat meliputi pencarian konten yang dicari anak, siapa saja yang dapat berkomentar, juga mengubah akun anak-anak menjadi private. Tidak bisa dicari sehingga lebih melindungi dan menjaga data anak secara ketat.

Baca juga: Menyikapi Fangirling Pada Anak

Menumbuhkan kesadaran digital

Terpenting, selalu bangun kesadaran digital pada diri anak. Kecerdasan literasi yang merupakan modal penting sebagai penyaring dan tameng. Berkelana dalam dunia TikTok boleh saja. Tapi tetap awas terhadap ancaman-ancaman cyber yang bahayanya juga menyeramkan dan berkepanjangan. Khususnya saat tak ada orang tua yang menemani dan mereka berselancar sendiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments