24

Pahami Seluk Beluk Investasi Bitcoin Agar Tak Merugi

Jalur investasi kini semakin beragam. Salah satu yang makin ramai diperbincangkan adalah Bitcoin. Semacam investasi digital dengan keuntungan menggiurkan. Tapi, pahami dulu seluk beluknya.

Asal mula Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada 2009. Tapi diduga sudah ada sejak setahun sebelumnya. Sayangnya identitas pengenal hingga sekarang tidak diketahui pasti. Ia mengenalkan Bitcoin sebagai mata uang virtual atau cryptocurrency yang berfungsi untuk berbagai transaksi di dunia maya.

Baca juga: 3 Jurus Jitu Membuat Hobi Jadi Investasi

Siapapun dapat memiliki tanpa ada syarat tertentu, hak cipta, atau izin terlebih dulu. Tinggal menanamkan uang atau aset, kemudian oleh sistem akan dikelola. Tapi bukan bank atau lembaga keuangan konvensional. Harga Bitcoin sendiri terus merangkak dan menjanjikan laba yang signifikan. Membuatnya mulai digemari oleh beberapa negara saat ini. Sementara di dalam negeri, mulai mendapat atensi sejak 2015. Setelah sebelumnya dilarang sebagai sistem pembiayaan mengingat ada berbagai risiko.

Bukan saham atau emas

Investasi menggunakan Bitcoin tidak sama seperti membeli saham atau emas. Begitu Anda melepas sekian uang untuk ditanam, Anda harus siap kehilangan semuanya. Sebab yang dipertaruhkan adalah kondisi nol dan tidak ada jaminan apapun sebagai garansi. Bitcoin benar-benar sangat tergantung pada demand and supply. Bisa jadi hari ini harganya sangat tinggi karena sedang diminati oleh pasar. Namun besok nilainya dapat anjlok drastis oleh sepinya peminat.

Berbeda dengan saham atau emas. Di mana rugi atau tidak, Anda masih memiliki barang tersebut. Masih ada kemungkinan untuk mendapat kembali. Sementara Bitcoin tidak. Tidak ada garansi, tidak ada jaminan uang kembali, dan sangat mungkin tidak bernilai lagi.

Menggunakan sistem P2P

Lalu siapa yang mengatur dan mengelola? Jawabnya tidak ada.

Bitcoin tidak mengenal transaksi dari bank ke nasabah, misalnya. Ia alat pembayaran langsung, yang menggunakan sistem peer-to-peer.

Tapi semua alur masuk uang tercatat dan terekam dalam sebuah jaringan yang dinamai blockchain. Sehingga data dan uang yang disetorkan dapat terlindungi.

Penanam uang juga dapat membuat blockchain sendiri. Siapa nanti yang berhasil membuat teknologi blockchain sendiri akan mendapat hadiah berupa kepingan-kepingan uang kripto. Dari situ pula, jumlah Bitcoin terus bertambah dan beredar.

Baca juga: Pilihan Investasi yang Tidak Terduga

Memicu economic bubble

Para ekonom mengkhawatirkan Bitcoin memicu economic bubble. Membahayakan kondisi perdagangan negara. Sebab dalam satu waktu harganya begitu tinggi, tapi dalam waktu singkat langsung meroket tajam ke bawah. Seperti balon udara yang tiba-tiba meletus tak berbekas. Maka dari itu, sebagian negara masih memberlakukan aturan ketat sebelum mensahkan Bitcoin bermain legal di pasar saham mereka.

Mulai menggantikan sistem perdagangan

Diduga Bitcoin akan mulai menggantikan sistem pembayaran. Selain membayar jual beli di pasar digital, uang kripto ini juga mulai diarahkan untuk transaksi antar negara. Termasuk mungkin ke depannya bentuk-bentuk baru yang belum terpikirkan saat ini.

Risiko tinggi

Walau terlihat mudah, Bitcoin punya resiko yang amat tinggi. Sebab investor harus menanggung kehilangan sendiri tanpa ada jaminan. Apalagi aturan hukum belum digodok untuk menjamin uang kembali. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments