18

Strategi Bisnis Bertahan Di Tengah Pandemi

Tampaknya saat ini bertahan bagi sektor bisnis adalah suatu keharusan. Selain bertujuan mencegah kebangkrutan datang, minimal menghindari kerugian sekecil apapun. Maka dari itu, penting sekali bagi pelaku bisnis melancarkan strategi bisnis yang berkelanjutan.

Sebab tidak bisa dipungkiri kondisi pasar dan konsumen telah berubah akibat pengaruh pandemi. Tak bisa diharapkan segera membaik dengan hanya berdiam diri dan menunggu. Pelaku bisnis mesti menggunakan segala sumber daya yang dipunya dan bekerja ekstra keras lagi. Apalagi ditambah persaingan ketat yang tidak berbanding lurus dengan daya beli. Pendeknya, produksi menumpuk tanpa diikuti jalur distribusi ke mata rantai selanjutnya.

Baca juga: Memetik Pelajaran Dari Datangnya Corona Bagi Perkembangan Bisnis

Jadi, sesuai dengan makna kata bertahan yang tak jauh-jauh dari sifat beradaptasi, berjuang, dan mandiri, pelaku bisnis pun perlu melakukan tindakan serupa. Mencurahkan pikiran dan tenaga untuk mendapat hasil terbaik di musim paceklik ini. Bahkan kadang bukan hanya untuk kepentingan bisnis sendiri, namun juga demi orang-orang yang menggantungkan hidup darinya. Seperti para karyawan maupun jejaring bisnis lain yang saling me-back up satu sama lain.

Mengubah strategi

Kini tak bisa lagi berpikir biasa. Anggap saja tidak ada kotak pembatas yang menghalangi. Buat rencana sebanyak-banyaknya dan jalankan mana yang paling mungkin untuk ditempuh. Tak perlu ragu jika memang rencana sangat berbeda 180 derajat dari sistem bisnis sebelum pandemi. Terpenting, bagaimana bisnis utama tetap jalan meski harus rela mendapat laba minimal.

Tetap beriklan

Bisnis sepi bukan berarti berhenti mengiklankan diri. Tetap pasang pariwara secara rutin, mudah, berbiaya murah, tapi efektif menyasar khalayak ramai. Contohnya via media sosial.

Dengan tetap beriklan, banyak manfaat yang akan digenggam. Di antaranya tetap mendapat kepercayaan dari konsumen sebagai bisnis yang sehat. Serta tidak menutup diri dari kemungkinan minat pembeli sebab mengetahui dari iklan produk yang beredar.

Baca juga: Fungsi Branding Saat Pandemi

Efisiensi

Kencangkan ikat pinggang lebih erat lagi. Tapi bukan berarti efisiensi mesti diartikan sebagai pengurangan jumlah tenaga kerja. Di satu sisi, pelaku bisnis perlu menyeimbangkan alur keluar masuk finansial agar tetap stabil. Di sisi lain juga mengatur kembali supaya waktu, sumber tenaga, dan lokasi kerja dapat dioptimalkan. Misalnya, mengatur jam kerja dari rumah, berapa tenaga yang dibutuhkan, berapa banyak uang untuk belanja barang, dan tetap harus ada laba yang wajib disimpan sebagai tabungan.

Membuka peluang baru

Buka peluang baru seluas-luasnya. Ekspansi ke bidang-bidang yang selama ini belum pernah terjamah atau terlihat receh. Ambil dulu, coba, kembangkan, dan terus pertahankan andai memang cocok untuk dijalani. Contohnya sudah banyak perusahaan-perusahaan besar yang mengubah haluan. Dari maskapai penerbangan yang menjajakan gorengan, restoran ternama yang menjual di tepi jalan, jasa salon yang mau melayani door to door, serta sejenisnya.

Baca juga: Penyebab Bisnis Rumahan Bisa Gagal

Selalu ada cadangan

Selalu siapkan cadangan. Patuh menjaga dana darurat, punya daftar sekian manajemen risiko, bergandengan dengan asuransi, tetap berkomunikasi dengan mitra dan calon investor, dan sebagainya. Serta tak lupa, sebisa mungkin menghindarkan bisnis dari utang atau kredit tanpa perencanaan yang jelas. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments