13

Menahan Amarah Saat Anak Belajar Online

Mendampingi anak belajar online di rumah sering menguras emosi dan tenaga. Bukan rahasia lagi bila anak hampir setiap hari mendapat amarah dari orang tua. Tapi di sisi lain, sebenarnya tak ada orang tua yang ingin memperlakukan anaknya penuh dengan emosi.

Ingin bersikap sabar, namun kata dan laku yang keluar tidak sesuai harapan. Bahkan tidak jarang, dari amarah yang kurang terkontrol, anak menerima perlakuan yang berlebihan. Kata-kata kasar sampai hukuman fisik yang mesti diderita. Sayangnya, dampaknya tidak cukup sampai disini.

Bila orang tua tak segera menahan amarah dan memperbaiki sikapnya, efek bawaan akan terasa hingga anak dewasa. Stres yang berkepanjangan, memicu depresi, tidak percaya diri, dan sulit berkonsentrasi. Apalagi ditambah intensitas pertemuan yang meningkat seiring anjuran untuk tetap di rumah saja. Anak tidak banyak mendapat pilihan kecuali tetap bersama orang tua, beserta segala emosinya.

Baca juga: Mengapa Banyak Ibu Kerepotan Dengan Belajar Online Anak?

Maka, jika tidak ingin dicap sebagai sumber kesengsaraan bagi anak, segera perbaiki diri terlebih dulu. Ciptakan suasana belajar online yang ceria dan menyenangkan. Upayakan anak benar-benar menikmati dan memetik ilmu dari sistem ini. Plus terpenting, merasa orang tua sebagai sosok yang nyaman untuk diajak belajar bersama.

Cari tahu sumbernya

Mulai dari mencari tahu mengapa amarah sering tidak tertahan. Akan tetapi jangan terburu-buru menuduh pihak luar sebagai penyebab, misalnya anak atau pasangan. Jangan-jangan pemicunya datang dari diri sendiri.

Seperti kekurangan waktu mengingat ada jam kerja kantor berbarengan dengan belajar online, tugas-tugas domestik rumah tangga yang belum tuntas, pasangan yang tidak mau membantu, lapar karena belum sarapan, atau karena apa.

Jadi, selidiki dan cerna sebaik-baiknya. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula Anda menghasilkan solusi.

Turunkan ekspektasi

Lalu turunkan ekspektasi. Sadari bahwa setiap orang punya keterbatasan yang adakalanya tidak sesuai bayangan. Termasuk diri sendiri yang nyatanya kurang andal menjadi guru di rumah. Sama halnya coba tahan amarah ketika menyadari anak sedang bosan tidak ingin belajar.

Baca juga: Andal Menjadi Guru Di Rumah

Bangun kesepakatan

Jangan pendam perasaan. Keluarkan saja segala uneg-uneg dengan tujuan membuat kesepakatan. Di mana intinya, membuat anak lebih memahami kebutuhan orang tua dan diri mereka sendiri. Bagian mana saja yang mesti dipersiapkan sendiri, dan mana saja yang masih perlu dibantu. Sehingga orang tua punya waktu untuk mengerjakan hal lain dan mengambil jeda sejenak.

Percaya anak mampu

Tanam rasa percaya bahwa anak bisa menjalani belajar online dengan baik. Gunakan kehadiran Anda sebagai orang tua untuk mendampingi secara sehat, teman diskusi, dan memberi support. Bukan mendikte, terus menerus berkomunikasi satu arah, juga menuntut prestasi yang tinggi. Lantaran merasa tak sepenuhnya percaya anak mampu mengerjakan sendiri kemudian diikuti emosi negatif pada mereka.

Baca juga: Pentingnya Bergabung Dengan Komunitas Parenting

Minta dukungan

Di samping itu, tak usah malu meminta bantuan pada pasangan untuk bergantian mendampingi anak belajar atau menuntaskan pekerjaan di rumah. Dapat pula dengan saling curhat ke komunitas parenting. Biasanya setelah mengungkapkan semua problem, energi yang disimpan lebih positif dan siap mendampingi anak kembali. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow

Comments

comments