23

Membedakan Antara Hukuman Dan Konsekuensi

Seringkali orang tua memberikan reaksi balik ketika anak dianggap melakukan suatu kesalahan. Namun tak menyadari apakah reaksi tersebut berupa hukuman atau konsekuensi. Karenanya penting sekali bagi orang tua untuk membedakan keduanya.

Mengapa menjadi penting? Sebab ada dampak yang perlu diperhitungkan. Meski sekilas tampak sama, namun hukuman dan konsekuensi memiliki ciri khas yang jauh berbeda. Ketika orang tua salah memberikan reaksi atas perbuatan anak, maka bukan saja imbasnya terasa pada anak tersebut, melainkan juga pada hubungan orang tua dan anak.

Baca juga: 7 Prinsip Mengoreksi Perilaku Buah Hati

Sangat mungkin anak tidak belajar dari kesalahan. Akan tetapi justru merasa dikorbankan, terus disalahkan, dan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia pahami maknanya. Bukan tidak mungkin anak-anak bakal terus mengulangi, apalagi cenderung secara sembunyi-sembunyi. Terlebih anak merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan. Atau sebelumnya tidak pernah ada diskusi yang membahas tentang perbuatan, namun mendadak langsung mendapat timbal balik yang tak menyenangkan.

Padahal tujuan dari orang tua memberikan reaksi adalah membuat anak jera. Tapi tujuannya menjadi gagal, lantaran sejak awal orang tua tidak menyadari hukuman atau konsekuensi yang sebenarnya diberikan.

Karakter hukuman

Hukuman mempunyai beberapa karakter khusus. Umumnya terlihat sebagai upaya menyudutkan anak plus datang sepihak dari orang tua. Hukuman juga biasanya tidak diawali dengan pengantar atau pertanyaan mengapa anak melakukan perbuatan tertentu, tapi langsung mengarahkan tuduhan.

Baca juga: Bentuk Hukuman Yang Sehat Bagi Anak

Bentuknya sering tidak berkorelasi dengan apa yang anak lakukan. Contohnya adalah saat anak menumpahkan air di gelas. Lalu orang tua memutuskan untuk menghukumnya dengan menyuruhnya bermain di luar agar rumah selalu bersih atau tidak boleh lagi mengambil air minum sendiri. Anak pada akhirnya tidak mendapat pelajaran dari kesalahannya. Yang terasa hanyalah tuduhan, kemarahan, dipermalukan, intimidasi, dan dipersalahkan.

Termasuk dari hukuman, anak kerap mendapat kata-kata yang tidak seharusnya.

Makian, cacian, sindiran, mendapat label (sebutan) tertentu, ancaman jika mengulang, dan sebagainya. Akhirnya, anak tidak mendapat kesempatan untuk lebih baik dari kesalahan sebelumnya dan mengerti akan sikap yang bernama tanggung jawab.

Ciri-ciri konsekuensi

Sementara itu, konsekuensi sekilas tampak sama, namun dari ciri-cirinya dapat memperlihatkan perbedaan yang nyata. Misalnya dengan tetap mengambil contoh anak yang menumpahkan air di gelas tadi. Konsekuensi yang diterima anak adalah membantu membersihkan air yang tumpah.

Dari sini, bisa diamati, ada korelasi antara kesalahan dengan konsekuensi. Menumpahkan air yang perlu diselesaikan dengan segera mengepel lantai dan sebagainya. Kemudian, bentuknya masuk akal. Tidak mengada-ada, berlebihan, atau membebani anak. Artinya masih dalam koridor kesalahan yang dilakukan.

Baca juga: Contoh Perlakuan Yang Bisa Menjatuhkan Mental Anak

Konsekuensi juga memberikan pengalaman belajar. Dengan segera mengepel atau membersihkan tumpahan air, anak belajar tentang solusi, lebih berhati-hati, dan tidak lari dari tanggung jawab. Belajar menghormati kepentingan orang lain. Karena bisa saja dari tumpahan air yang disebabkannya akan menimbulkan orang cedera. Dari kesalahan yang bila disikapi tepat oleh orang tua malah membuahkan hal manis ke depannya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments