19

Dampak Terlalu Banyak Melihat Media Sosial

Jangan jadikan media sosial sebagai pelarian dan aktivitas pengisi waktu. Apalagi selama di rumah saja. Sebab berlebihan atau terlalu lama melihatnya akan menimbulkan beberapa dampak berbahaya.

Dalam laporan berjudul Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World tahun 2018, jumlah pengguna media sosial di Indonesia sebanyak 130 juta orang. Atau setara dengan 49 persen dari total penduduk. Data lain dari We Are Social yang menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit untuk mengakses media sosial per harinya.

Baca juga: Prediksi Perubahan Kehidupan Sosial Usai Pandemi

Di sisi lain belum ada penentuan waktu ideal penggunaan media sosial. Mengingat ada kondisi psikologis dan reaksi orang yang berbeda-beda terhadap konten yang ada. Akan tetapi, para pakar menganjurkan antara 30 hingga 60 menit dalam sehari.

Meski bukan patokan, setidaknya rentang waktu tersebut diharapkan mampu meminimalisir dampak negatif namun tetap efektif memberikan hiburan. Apalagi selama di rumah saja rentan dengan efek-efek psikologis yang dapat bertumpuk. Berlebihan dalam menggunakan media sosial dikhawatirkan bakal melipatgandakan risiko yang tidak diinginkan.

Menumbuhkan candu

Salah satunya adalah menumbuhkan candu. Media sosial menjadi pelampiasan ketika di rumah tidak menemukan aktivitas lain yang lebih berarti. Ada rasa cemas dan khawatir saat tidak membuka aplikasi pertemanan barang sebentar saja. Sehingga hampir pasti, waktu untuk menatap layar dan mengamati konten lebih banyak dilakukan.

Rasa ketagihan ini mungkin tidak disadari. Sebab melihat media sosial dianggap sebagai perbuatan biasa saja. Tapi kecenderungan sikap selalu membawa gawai ke mana-mana, hampir tiap jam membuka media sosial, sekadar melihat tanpa tujuan pasti, durasi cukup lama, mengabaikan pekerjaan lain dapat dinilai sebagai indikator kecanduan.

Baca juga: Tidak Perlu Baper Di Media Sosial

Krisis identitas

Kemudian juga muncul krisis identitas. Tepatnya berkurang kepercayaan diri karena menggunakan konten media sosial sebagai standar kenormalan dalam pergaulan.

Saat orang tersebut tidak bisa mengikuti tren lantaran berbagai sebab, maka ada yang harus ditutupi dan disembunyikan.

Tak aneh jika penggunaan filter foto untuk menampilkan fisik yang lebih baik atau hanya mengunggah sudut aktivitas yang baik-baik saja kian jamak terjadi. Sebagai langkah membangun personal branding.

Konsentrasi berkurang

Masalah lainnya terjadi penurunan konsentrasi. Khususnya bila diakses sebelum tidur. Kualitas istirahat yang rendah berpengaruh pula ke banyak hal. Inilah yang membuat mengapa tak baik melihat media sosial sambil menyetir, bekerja, makan, berjalan, dan sebagainya. Selain berbahaya bagi diri sendiri, orang lain juga mesti ketiban sial.

Masalah kesehatan

Terlalu lama mengakses media sosial juga berdampak pada kesehatan. Contohnya gangguan penglihatan, potensi obesitas karena kurang gerak, dan pola makan yang tak sehat.

Baca juga: Gangguan Mental Terkini Karena Media Sosial

Gangguan pada mental

Perlu diwaspadai, lamanya melihat media sosial turut berdampak pada kesehatan mental. Penelitian dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat menyatakan risiko cemas dan depresi meningkat seiring lamanya seseorang mengakses media sosial. Sangat berkolerasi erat dengan masalah krisis kepercayaan diri tadi. Di mana kondisi orang lain atau yang sedang trending dipakai sebagai tolak ukur. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments