11

Pentingnya Mencermati Irama Jantung

Salah satu masalah pada jantung yang bisa berakibat fatal adalah terganggunya irama jantung, atau aritmia jantung. Di mana irama jantung tersebut lebih lambat atau lebih cepat dari keadaan normal, yaitu 60-100 kali per menit saat tidak beraktivitas. Atau irama jantung yang tidak teratur.

“Aritmia bisa terjadi pada semua umur, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga tua,” terang dr. Beny Hartono, Sp.JP, FIHA, spesialis aritmia jantung RS Premier Bintaro. Karena itulah setiap orang harus mencermati irama jantungnya. “Kadang ketika bayi hingga anak-anak tidak terjadi gangguan, tapi ketika dewasa baru terasa.”

dr. Beny Hartono, Sp.JP, FIHA

Gejala yang Diwaspadai

 

Tentu saja, karena berhubungan dengan irama jantung, sebenarnya Anda sudah bisa merasakannya. Apakah jantung Anda berdetak tidak seperti biasanya. Bila lebih cepat Anda akan seperti sedang berdebar-debar. Bila detak jantung lambat, Anda bisa pingsan atau goyah (keliyengan). Perlu waspada bila Anda atau anggota keluarga Anda mengalami pingsan beberapa kali tanpa sebab yang jelas.

Bila menemui gejala tersebut sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter spesialis jantung dengan keahlian aritmia jantung.

Umumnya Anda akan melalui tes untuk melihat irama jantung Anda. Yang paling sederhana adalah EKG, lalu holter untuk merekam mulai dari sejam sampai satu minggu. “Tapi kalau gangguan irama lama baru timbul, bisa dipasang implantable loop recorder. Yaitu alat yang dipasang di bawah kulit dada. Bisa dipasang hingga tiga tahun,” terang dr. Beny.

Penyebab dan Pengobatan

Irama jantung yang melambat bisa karena proses degeneratif, riwayat serangan jantung, atau infeksi pada jantung. Sedangkan irama yang terlalu cepat bisa karena adanya korsleting listrik pada jantung.

Korsleting terjadi karena adanya jalur tambahan atau jalur aksesori pada jantung. Sehingga listrik pada daerah jantung mengalami korslet.

Kalau korslet terjadi pada daerah bilik jantung bisa fatal. Inilah salah satu penyebab orang mati mendadak,” terang dr. Beny.

Pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Misalnya, bila korslet terjadi di daerah serambi jantung, akan diberi obat. “Namun obat hanya mencegah korslet ulang hingga 50%. Yang paling bagus dengan diablasi, diberi kateter ablasi untuk menghilangkan korslet,” terang dr. Beny. (ADV)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments