08

Mencegah Ekstremisme di Kalangan Remaja

Beberapa waktu lalu sempat heboh remaja yang mencoret-coret masjid di Tangerang. Ekstremisme atau radikalisme memang bisa terkena siapa saja, termasuk para remaja. Generasi yang kerap tak dapat diduga kemauannya, namun mampu melakukan aksi-aksi yang berbahaya. Bagaimana mencegah paham yang ekstrem pada diri mereka?

Salah satu kuncinya adalah peran orang tua. Menggunakan keluarga sebagai benteng utama untuk antisipasi bibit-bibit eksklusivitas tidak berkembang dalam alam pikir remaja. Sebab paparan suatu ideologi ekstrem yang diterima, apalagi diterima mentah-mentah, akan tumbuh liar dengan sendirinya. Bahkan tak jarang dari alam pikir, merangsang muncul perbuatan yang nekat. Seperti aksi vandalisme pada rumah ibadah beberapa waktu lalu di Tangerang.

Baca juga: Pola Asuh Yang Tepat Bagi Remaja, Perlu Tarik Ulur

Sayangnya, bukan hal mudah merangkul mereka. Terlebih masa remaja cenderung mulai mengeksplor segala sesuatu dan menghabiskan waktu berdasar kenyamanannya. Nasihat dari orang tua akan tampak sebagai campur tangan yang perlu dijauhi. Sebaliknya, ajakan dari teman atau idolanya ialah segalanya.

Jangan diamkan. Khususnya begitu melihat gelagat anak remaja yang berubah. Dari yang tadinya biasa terbuka, kini menutup diri seolah ada yang ditutupi. Atau mulai menunjukkan opini dan perilaku yang mengarah pada ekstremisme.

Ketahui lingkarannya

Maka dari itu, supaya tidak kecolongan, ada baiknya orang tua selalu mengenal siapa saja lingkaran terdekat anaknya. Baik di sekolah, tempat kursus, teman-teman bermain atau nongkrong, tetangga, serta tokoh-tokoh yang diidolakan.

Sebab dari sana umumnya pandangan ekstrem mulai bercokol pada diri anak. Menyusup bersamaan dengan agenda keseharian. Pelan-pelan masuk dan menancapkan akar yang kuat.

Bisa saja anak tidak langsung menerima. Namun merasa tak berdaya, lantaran takut tidak diterima oleh komunitasnya. Sehingga mau menerima dan menganggapnya sebagai nilai yang wajar di usianya.

Baca juga: Membangun Perilaku Sehat Sejak Remaja 

Selera

Paparan juga dapat diterima lewat hal-hal yang disukai. Buku, internet, hobi, aktivitas tertentu, dan sebagainya. Umumnya, ketika remaja sudah berselera pada satu topik, mereka akan mulai mendalami dan mengabaikan topik-topik yang lain. Sehingga kian melipatgandakan bahaya ekstremisme.

Ruang dialog yang terbuka

Dalam langkah antisipasi, fungsi keluarga sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan. Mengajak remaja berdialog tentang isu yang digenggamnya. Bagaimana mereka mengolah itu semua dan bagaimana mereka menghargai perspektif orang lain. Solusi untuk mencegah remaja tidak mengunggulkan cara pandangnya sendiri, melainkan juga mampu respek pada opini yang lain. Bila dibiasakan, anak akan mudah konfirmasi atau cek dan ricek, ketimbang langsung menerima tanpa disaring sama sekali.

Mengenal perbedaan

Selanjutnya kenalkan anak pada kehidupan sosial yang nyata. Di mana ada banyak sekali perbedaan. Warna warni yang perlu dihormati dan ditoleransi. Karenanya, penting bagi orang tua menjadi role model bagi remaja. Contoh sederhananya, tidak ragu memberi bantuan pada tetangga yang berbeda suku dan agama.

Baca juga: Mengapa Remaja Sering Labil

Kompromi

Fase remaja terkenal dengan egonya. Kurang menghiraukan risiko dan konsekuensi di masa mendatang. Jadi, penting pula untuk mengajak remaja berlatih kompromi. Mengenalkan situasi yang mana adakalanya mereka harus memenangkan egonya, namun lain kali mesti mengalah. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments