06-2

Biar Tidak Tertipu Orderan Bodong

Sisi lain dari pandemi adalah munculnya berbagai usaha baru. Sebagai respon untuk mendapatkan pemasukan tambahan atau pengganti pekerjaan yang hilang. Namun hati-hati, jangan sampai tertipu dengan yang namanya orderan bodong.

Contohnya sudah banyak terjadi. Memesan makanan atau barang tapi tak kunjung dibayar. Ada pula yang sudah diantar ke alamat pemesanan, tapi ternyata bukti transfer uang dipalsukan. Kerugian semakin meningkat saat pesanan berjumlah besar.

Baca juga: Jenis Usaha Yang Diperkirakan Akan Terus Bersinar

Pada dasarnya, oderan fiktif diduga dilatarbelakangi oleh berbagai sebab. Dimulai dari niat iseng ingin mengerjai semata. Hingga ingin mengambil manfaat sendiri di tengah situasi ekonomi yang serba sulit ini. Kemungkinan barang yang sudah dipesan akan dijual kembali atau dikonsumsi sendiri.

Bagaimanapun sedikit banyak orderan bodong tentu mengganggu. Pihak penjual mesti menambal biaya modal yang sudah terlanjur untuk tahap produksi. Bila berkali-kali kena orderan bodong, bisa-bisa usaha yang baru mulai akan gugur dengan sendirinya. Maka dari itu, penjual lebih hati-hati dan selektif lagi dalam menerima order. Khususnya konsumen baru yang memesan barang dalam jumlah jumbo.

Minta uang muka

Sebaiknya untuk memproteksi usaha, tak ada salahnya meminta uang muka. Kisarannya dapat disesuaikan dengan nominal harga barang secara keseluruhan. Misalnya 50% dulu dibayar di awal. Aturan ini diperlukan khususnya bagi pelaku usaha yang perlu memproduksi barang terlebih dulu. Atau yang harus mendatangkan barang dari pemasok lebih besar.

Fungsi uang muka sendiri tak lain sebagai jaminan. Bila memang pembeli benar-benar membeli, di tahap akhir tinggal melunasi. Tapi jika berniat lain, setidaknya uang muka yang sudah diserahkan dapat menjadi pegangan.

Baca juga: Dilarang Lakukan Hal Ini Saat Teman Mulai Usaha

Hati-hati dengan bukti pembayaran

Selain itu, waspada selalu dengan bukti pembayaran.

Tak selamanya bukti yang ditunjukkan terjamin asli. Sangat mungkin dimanipulasi dengan kecanggihan aplikasi.

Terlihat sudah mengirim uang, namun di rekening tidak terlacak.

Karenanya, saat pembeli mengirim bukti pembayaran, cek kembali di rekening pribadi. Deteksi kebenarannya dan pastikan uang memang telah terkirim. Bila tidak atau dibumbui drama tertentu, sebaiknya abaikan saja semua orderan dari calon konsumen nakal ini.

Komunikasi lancar

Perhatikan saat komunikasi terjadi. Pembeli yang tulus akan menjalin percakapan dengan baik serta mengikuti semua rules yang sudah ditetapkan oleh pembeli. Kalau ada permintaan khusus, masih bisa ditoleransi. Berbeda dengan pembeli nakal. Seringnya, sejak awal mereka sudah menunjukkan komunikasi tidak natural, lebay, mengada-ada, menyisipkan permintaan aneh-aneh, atau seenaknya.

Cek alamat pengiriman

Cek alamat pengiriman. Penjual dapat memantau dari peta digital atau aplikasi lain. Tak jarang alamat pemesanan dibuat acak, tak berpenghuni, sampai diarahkan ke rumah orang lain. Padahal barang sudah dibuat dan belum dibayar.

Baca juga: Kiat Memilih Lokasi Usaha

Cari tahu siapa yang pesan

Andai muncul rasa curiga pada sosok yang memesan, jangan ragu untuk menelitinya lewat media sosial. Begitu pula dengan pemesanan yang diatasnamakan sebuah organisasi dan dalam kapasitas besar. Lakukan konfirmasi ulang atau baca ulasan yang tertera di internet mengenai kredibilitasnya. Kecuali yang memesan merupakan orang yang terpercaya dan sudah order berulang-ulang. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments