28

Pola Asuh Yang Tepat Bagi Remaja, Perlu Tarik Ulur

Pola asuh perlu disesuaikan dengan fase tumbuh kembang anak. Sama halnya ketika mereka menginjak masa remaja. Orang tua harus lekas memperbarui relasi. Menerapkan tarik ulur, agar keduanya tetap terjalin dalam interaksi yang hangat.

Sebab fase remaja sangat menentukan, sementara banyak faktor di luar sana yang jadi ancaman. Tak terkontrol tapi sangat efektif berpengaruh pada remaja dengan cepatnya. Sangat mungkin ketika anak terjerumus pada hal yang tidak semestinya, dampaknya bakal membayangi seumur hidup. Terlebih di fase remaja, anak cenderung ingin serba bisa, tertarik mencoba pada banyak hal, mementingkan ego, lebih memilih dekat dengan teman daripada orang tua, termasuk melakukan agenda hariannya dengan metodenya sendiri.

Baca juga: Agar Remaja Nyaman Jalan Bersama Orang Tua

Apabila orang tua tidak memulai mendekatkan diri, bukan tidak mungkin keduanya tinggal satu atap, namun satu sama lain tak ubahnya seperti orang asing. Oleh karenanya, pola asuh diharapkan menjadi jembatan untuk membuat remaja tetap dekat. Juga menjadi bekal membangun kepribadian, kematangan emosi, dan kemandirian untuk masa depannya nanti.

Komunikasi dua arah

Remaja sangat ingin dimengerti dan diapresiasi keinginannya. Karenanya sangat penting bagi orang tua membangun komunikasi secara dua arah. Terbuka, siap mendengar, dan mendukung harapan anak. Bukan terus memasang diri dengan jurus memberi saran tanpa mendengar opini remaja sama sekali.

Tujuannya sendiri bukan hanya untuk mengetahui harapan anak. Lebih dari itu, membuat anak nyaman berinteraksi dengan orang tua. Menghapus sekat yang biasanya tercipta oleh perbedaan umur, serta lebih memudahkan berbicara dari hati ke hati ketika masalah datang.

Membantunya merancang ekspektasi

Di samping itu, sangat penting bagi orang tua mengimbangi pola pikir para remaja. Di fase ini, mereka kerap getol membuat ekspektasi atau capaian-capaian tertentu. Bantu mereka untuk merumuskan yang namanya kebutuhan atau keinginan. Mana yang perlu diprioritaskan dan kebutuhan yang sebaiknya ditunda saja. Berikut formula yang benar agar mereka tidak salah jalan dalam menggapainya.

Baca juga: Mengintip Problem Anak Remaja

Mengenalkan kesepakatan dan konsekuensi

Meski remaja sedang menggemari yang namanya kebebasan, tetap kenalkan pada opsi kompromi.

Di titik-titik tertentu, mereka perlu menghormati kesepakatan maupun aturan yang berlaku.

Khususnya yang dibuat bersama orang tua, juga yang secara legal diterapkan di luar rumah. Melanggarnya berarti ada konsekuensi yang menanti. Jadi, walau berjiwa bebas, remaja harus menyadari untuk menghormati kesepakatan.

Memberinya ruang

Beri ruang yang cukup bagi remaja. Mengingat masa yang sangat tepat untuk mengembangkan diri. Potensi, minat, bakat, mengasah hobi, bertemu banyak komunitas, belajar dari kegagalan, dan sebagainya. Adakalanya biarkan mereka menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Di lain waktu, berikan bantuan untuk membuatnya bangkit tanpa ketergantungan.

Baca juga: Mengapa Remaja Sering Labil

Jadi role model

Remaja sangat membutuhkan role model. Lebih baik bila kebutuhan tersebut diisi oleh orang tuanya sendiri. Panutan yang akan memberikan contoh riil dari lingkungan terdekatnya. Bahkan kadang tanpa perlu mengeluarkan banyak kata, remaja akan meniru perilaku orang tua dengan sendirinya. Maka dari itu, catatan penting bagi orang tua pula, supaya senantiasa hati-hati dalam bertutur dan bersikap. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments