26-1

Angka Pernikahan Dini Meningkat Selama Pandemi, Apa Bahayanya?

Di tengah pandemi masih berlangsung, ada sebuah fakta mengejutkan. Angka perkawinan anak terus bertambah. Kenyataan yang tentunya membuat miris dan menjadi peringatan bagi siapa saja. Termasuk bahaya yang ditimbulkan pada diri anak maupun dampak jangka panjangnya.

Sejauh ini belum ada data tetap berapa pernikahan anak yang telah dilaksanakan. Sebab banyak sekali pernikahan anak yang tidak didaftarkan, atau terjadi di bawah tangan, sehingga tak terindentifikasi. Akan tetapi Badan Peradilan Agama Indonesia mencatat selama Januari hingga Juni 2020, telah menerima sebanyak 34.000 pengajuan dispensi kawin oleh mereka yang belum mencapai 19 tahun. Bahkan masih banyak yang menikahkan anaknya di usia 14 tahun!

Baca juga: Kapan Lajang Perlu Meraih Pendidikan Setinggi Mungkin

Rata-rata dilatarbelakangi oleh budaya, menghindari perzinahan, serta alasan ekonomi. Begitu anak perempuan diambil alih oleh seorang pria, maka beban keluarga berkurang. Sama halnya dengan lelaki yang menginjak fase remaja perlu segera menikah agar keluar dari rumah dan mencari penghidupan sendiri.

Dampak pada kesehatan

Dampak yang nyata dan sangat terasa adalah pada kesehatan. Mengingat tubuh anak perempuan belum sepenuhnya siap untuk hamil dan melahirkan. Maka tak aneh, jika angka perkawinan anak terus meningkat, besarnya kematian ibu dan bayi juga terus membengkak.

Mental belum siap

Tak hanya fisik, mental juga belum siap. Menjalani kehidupan pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan dan tanggung jawab besar menanti. Ketidaksiapan disebabkan oleh dua kehidupan yang berbeda.

Meski sudah menikah, anak masih hidup dalam dunianya sendiri. Dominan diisi masih ingin main-main, berkumpul dengan teman sebaya, belajar dan kerinduan pada sekolah.

Perceraian tinggi

Tak aneh pula jika kemudian perceraian begitu tinggi. Dampak rentetan dari ketidakcocokan dan terburu-burunya menikahkan anak. Bila sudah demikian, tak heran jika salah satunya lantas mengemban tanggung jawab besar. Terutama pada sisi perempuan, sebab harus mengasuh anak beserta biayanya.

Baca juga: Sumber Perceraian Rumah Tangga Yang Perlu Diwaspadai

KDRT

Akibat pernikahan dini, banyak anak yang terjebak pada hubungan toksik. Sebagai imbasnya, mereka juga menerima perlakuan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Terlebih di mana salah satunya tidak mampu mengimbangi pola pikir pasangan atau tercetus oleh kondisi ekonomi.

Naiknya angka kemiskinan

Tidak benar jika mengaitkan perkawinan anak efektif mengurangi kemiskinan. Justru melanggengkannya hanya akan menambah deret panjang keluarga miskin baru. Baik suami atau istri belum siap mencari nafkah dan mendapat penghasilan yang layak. Ditambah banyak sekali dari pasangan muda yang kemudian menjadi pucuk harapan dari keluarga besarnya, tak ubahnya semacam generasi sandwich.

Ledakan penduduk

Bahaya juga mengarah pada ledakan penduduk. Jumlah kelahiran bayi tak terkendali seiring dengan banyaknya perkawinan terjadi di usia yang semakin muda. Dari jumlah penduduk yang meningkat, terus disertai impak-impak lain yang tak terkontrol.

Baca juga: Campur Tangan Keluarga Besar Yang Tak Disukai Pasangan Baru Menikah

Rendahnya kualitas SDM

Juga mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena anak yang telah menikah cenderung meninggalkan bangku sekolah. Bisa diduga, menjadi pribadi yang minim literasi dan kurang terampil. Anak juga tak sanggup mencari pekerjaan dan upah yang layak. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments