16

Mengapa Banyak Ibu Kerepotan Dengan Belajar Online Anak?

Kisah miris di Lebak Banten di mana seorang ibu menganiaya anaknya hingga tewas karena kesal mengajar anak belajar online sungguh bikin terhenyak. Ternyata belajar online juga memberikan dampak besar secara psikologis pada orang tua.

Memang bukan rahasia lagi banyak ibu yang merasa kerepotan dengan belajar online anaknya. Muncul protes, kritikan tajam, bahkan ada yang ramai-ramai menggelar demonstrasi. Sebenarnya, mengapa sampai bisa demikian?

Pada dasarnya kerepotan memang tidak bisa dihindari. Aktivitas belajar mengajar yang tadinya berlangsung di sekolah, kini beralih di rumah. Seolah lancar tidaknya, menjadi tanggung jawab orang tua. Apalagi bila usia anak masih tergolong dini. Ketergantungan pada bantuan orang tua sangat besar. Dari mengoperasikan aplikasi, mencerna materi, hingga menyelesaikan berbagai tugas dari guru.

Baca juga: Parameter Belajar Online Efektif Bagi Anak

Sementara itu, harus diakui, mayoritas lebih banyak ibu lebih terbebani dengan belajar online anaknya dibanding para ayah. Barangkali ada kaitan, di mana belajar online masuk dalam kategori pekerjaan domestik, yang identik dengan pekerjaan perempuan. Tak lain dan tak bukan adalah para ibu.

Beban pekerjaan bertambah

Kerepotan muncul karena adanya beban pekerjaan yang bertambah. Para ibu harus mendampingi dan membantu anak menyelesaikan setiap tugasnya. Membagi pikiran antara urusan rumah tangga dan sekolah. Sebagian ibu juga harus membagi waktu untuk mengerjakan kewajiban di kantor, dan sepulangnya terburu-buru untuk membantu anak belajar.

Tidak siap menjadi guru di rumah

Hampir tak ada yang siap dengan perubahan mendadak dengan datangnya Covid-19. Termasuk tak siap menjadi guru di rumah. Menjelaskan materi yang sederhana pun pada anak, butuh skill khusus, agar mereka cepat memahami. Sedangkan kemampuan mengajar yang baik tak sepenuhnya dikuasai.

Baca juga: Andal Menjadi Guru Di Rumah

Belum lagi ditambah aneka proyek tertentu dengan tenggat waktu singkat. Pada akhirnya tak hanya merasa kerepotan, namun juga muncul berbagai emosi negatif pada anak dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Deadline tugas ada di tangan ibu

Meski yang sekolah anak, tapi para ibu juga ikut belajar dan menyelesaikan tugas. Karenanya, deadline tugas tergantung pula bagaimana ibu mengatasinya. Di tengah-tengah kesibukan harian, ada batas waktu tugas anak yang sudah menunggu. Kadang ditambah mood anak yang berubah-ubah. Ibu sudah semangat, tapi anak malah tantrum tak mau menyentuh tugasnya sama sekali.

Pengeluaran bertambah

Kerepotan juga terjadi karena adanya pengeluaran yang bertambah. Para ibu harus pintar-pintar mengatur pengeluaran seiring adanya dana yang mesti disisihkan untuk pengupayakan belajar online bisa berjalan dengan lancar. Contohnya untuk membeli gawai baru dan kuota internet.

Tidak ada new normal di rumah

Sadar atau tidak, kerepotan yang dibarengi dengan emosi negatif terbentuk akibat tidak adanya aturan new normal di rumah. Para orang tua seharusnya berdiskusi dan membentuk kesepakatan yang baru dengan anak selama belajar online berlangsung. Misalnya jam berapa anak harus siap, konsekuensi bila anak tidak belajar, sejauh mana bantuan orang tua diberikan, dan sebagainya.

Baca juga: Hak Anak Yang Sering Dilanggar Orang Tua

Minimnya peran suami

Minimnya peran suami membantu anak belajar turut menyumbang kerepotan pada ibu. Kadangkala meski ayah tetap bekerja dari rumah, belum tentu menjamin support yang maksimal. Tetap ibu yang dituntut untuk hadir sepenuhnya. Padahal bila menjadi tanggung jawab bersama, ayah dan ibu dapat bergantian dan tentunya membawa dampak positif bagi anak. (LAF)

 

Foto: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments