13

Sumber Perceraian Rumah Tangga yang Perlu Diwaspadai

Gugatan perceraian di pengadilan meningkat selama era pandemi ini. Ditengarai, penyebabnya terpicu oleh banyak faktor. Waspadai beberapa sumber yang kerap memicu masalah dalam rumah tangga.

Sebab adanya perubahan saat wabah Covid-19 belum tentu membawa keharmonisan. Meski terbilang intensitas pertemuan makin sering dan keberadaan bersama tambah lama. Bagi sebagian pasangan, justru kondisi ini membawa masalah tersendiri.

Baca juga: Rahasia Pernikahan Tetap Mesra Selama Di Rumah Saja

Apalagi sebelumnya sudah terjadi percikan-percikan yang cukup sering mengganggu. Atau ketidaksiapan pasangan menghadapi perubahan seiring berlakunya kebiasaan yang baru. Tidak segera mencari solusi dan adaptasi. Melainkan terjebak pada persoalan dan memutuskan untuk mengakhiri pernikahan dengan perceraian.

Abai terhadap komitmen

Pertama, terpicu oleh kendornya terhadap komitmen. Baik oleh salah satu, maupun keduanya. Pasangan tidak menunjukkan respek atas perjanjian yang dibuat bersama, terus mengulang, pun tidak segera memperbaiki diri. Satu sama lain merasa tidak dihargai, kemudian tidak ada lagi tali penghubung yang membuat keduanya merasa saling memiliki.

Perselingkuhan

Masalah perceraian juga terpicu oleh perselingkuhan. Tidak setia pada satu orang semata, tapi memberikan ruang tersendiri bagi pihak lainnya. Tentunya menyakitkan bagi pasangan yang sah. Merasa dikhianati, tidak dicintai, serta tidak berharga sama sekali. Jadi, daripada posisinya tidak memiliki kontribusi terhadap kehidupan pasangannya, jalan perceraian akhirnya diambil.

Baca juga: Mengapa Orang Berselingkuh?

Komunikasi buruk

Komunikasi disebut-sebut selalu menjadi kunci harmoni tidaknya suatu rumah tangga.

Satu sama lain dapat mengungkapkan keinginan dan ada upaya bersama untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada.

Walau konflik terhitung ringan. Sebaliknya, membiarkan masalah terus berlarut, tidak menunjukkan kasih sayang, minim apresiasi, dan sebagainya, menguatkan dinginnya relasi pernikahan. Lalu berbuah pada sebutan ketidakcocokan.

Menikah terlalu muda

Umur tidak menjamin matangnya seseorang. Namun ada kaitan kuat bahwa menikah terlalu muda menjadi sumber penyebab perceraian. Lantaran belum siap secara mental dan fisik untuk hidup bersama dengan orang lain, beserta segala tantangannya. Ditambah perkenalan hanya terjadi dalam waktu singkat atau menikah di usia muda akibat dorongan dari pihak tertentu, seperti keluarga.

Masalah keuangan

Masalah keuangan yang tidak stabil mendorong munculnya keretakan.

Diawali dengan stres, tertekan, kebingungan, dan sikap lainnya dalam memenuhi berbagai kebutuhan (keinginan) dengan jumlah pemasukan yang terbatas.

Terlebih pandemi memengaruhi turunnya pendapatan, sementara sebagian kebutuhan tidak bisa ditunda atau malah naik anggarannya. Contohnya biaya pendidikan online anak.

Campur tangan keluarga

Waspadai mengenai campur tangan keluarga. Apalagi bila salah satu lebih mendengar masukan dari anggota keluarga, tanpa mempertimbangkan kepentingan pasangan. Karena merasa tidak dihargai, tidak dibutuhkan, dan tersisih oleh keluarga besar, maka lebih baik mencari tempat lain yang mau memberi tempat layak pada dirinya. Khususnya mencari kepuasan batin agar lebih terpenuhi.

Baca juga: Bantu Anak Memahami Perceraian

KDRT

Sama halnya terpicu oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dalam bentuk fisik dan verbal. Ditambah intensitas bertemu yang sering semakin meningkatkan bahaya KDRT. Sehingga daripada tersiksa terus menerus, terputuskan untuk mengakhiri pernikahan saja. Gugatan perceraian dilayangkan dengan harapan tidak ada lagi siksaan pada fisik dan batin. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments