04

Waspada The Silent Killer Happy Hypoxia, Gejala Baru Covid-19

Sebagai virus baru, Corona memang belum bisa dikenali sepenuhnya. Gejala terbaru bernama happy hypoxia baru-baru ini muncul dengan kejutan yang luar biasa. Seperti apa dia?

Happy hypoxia disebut juga dengan happy hypoxemia syndrome. Kata happy yang tersemat dalamnya sebenarnya untuk menggambarkan ironi. Pasien tidak merasakan gejala umum yang biasanya menandakan telah terjangkit Covid-19. Ia tetap merasa baik-baik saja, bersikap dan berbicara seperti biasa. Namun kadar oksigen mendadak langsung rendah. Tak ayal, happy hypoxia dianggap sebagai silent killer.

Beberapa pasien yang tidak merasakan apapun, secara spontan merasa lemas. Saat diperiksa lebih lanjut, ternyata kondisinya sudah masuk dalam tahap membahayakan. Banyak yang tidak terselamatkan, lantaran sejak awal tidak ada gejala yang terdeteksi.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental Selama Corona Melanda

Karenanya, saat ini, anjuran mematuhi protokol kesehatan tetap dianjurkan. Tidak keluar rumah saat tidak ada kepentingan mendesak, kerap mencuci tangan, wajib pakai masker, jaga jarak, dan perhatikan benda-benda yang Anda sentuh.

Gejala umum tidak terasa

Happy hypoxia seakan misteri. Ia tidak menyertakan gejala-gejala umum sebagaimana seseorang terjangkit Covid-19. Terutama batuk, demam kering, dan sesak napas. Kondisi spesial ini juga tidak memperlihatkan adanya diare, sakit kepala, konjungtivitas, kehilangan indra pengecap dan bau, serta ruam-ruam pada kulit.

Tentu saja keadaan semacam ini berbahaya. Penderita merasa tetap sehat, tidak melakukan pengobatan segera sebab tidak ada gejala apapun yang terasa.

Kadar oksigen rendah

Kadar oksigen mendadak rendah, tanpa sesak napas. Tingkat kerendahan oksigen  dapat mencapai 50 persen di dalam darah. Sementara tingkat saturasi oksigen yang normal dalam darah ada pada kisaran 90-100 persen. Seharusnya kadar oksigen yang sudah sedemikian rendah membuat otak menyalakan alarmnya. Nyatanya, tidak ada perubahan yang direspon.

Baca juga: Bagaimana Hidup Berdampingan Dengan Corona?

Bahkan dalam kondisi yang mengarah ke fatal ini, penderita masih merasa baik-baik saja. Beberapa pengidapnya masih dapat berbicara, bersikap dengan normal, dan sangat tampak sadar.

Mengapa sampai demikian?

Belum ada jawaban yang pasti, mengingat penelitian masih terus dikembangkan. Namun, sebagian peneliti dan pakar medis menduga, terjadinya happy hypoxia berkorelasi dengan proses respirasi.

Oksigen yang seharusnya telah terserap paru-paru, dipindah ke pembuluh darah (proses difusi). Kemudian berlanjut ke tahap penyebaran ke jaringan seluruh tubuh (proses perfusi). Kemungkinan besar oksigen tetap diterima oleh paru-paru, tapi gagal didistribusikan ke pembuluh darah dan jaringan tubuh yang lebih kompleks. Fenomena ini menjelaskan mengapa pasien dengan happy hypoxia tidak merasa sesak napas sama sekali, padahal saturasi oksigen dalam darahnya tergolong sangat rendah.

Baca juga: Menjaga Rumah Merdeka Dari Virus Corona

Deteksi lewat pulse oximeter

Deteksi tercepat untuk memastikan adanya happy hypoxia dapat menggunakan alat bernama pulse oximeter. Alat ini mudah ditemukan di apotek. Para ahli kesehatan juga menyarankan agar memilikinya di rumah guna menjalani deteksi dini secara mandiri.

Cara pengujian pun sangat mudah. Ujung jari tinggal ditempelkan dan alat akan langsung bekerja. Menunjukkan kadar oksigen dan denyut jantung di layar monitor. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels,Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments