31-rspb

Tuberkolosis Bisa Mengancam Siapapun

Indonesia merupakan negara peringkat ketiga endemi Tuberkolosis (TB), setelah India dan Cina. Padahal kuman TB akan mati bila terkena sinar matahari. Lalu mengapa angka penderita TB di Indonesia masih tinggi? “Kuman TB senang tempat yang lembap. Karena itulah dulu penyakit ini dipersepsikan dengan penyakit golongan tak mampu karena hidup berhimpitan tanpa ventilasi yang baik. Namun sekarang tidak begitu. Orang bisa terpapar kuman TB ketika berada di mal,” ujar dr. Astri Indah Prameswari, Sp.P, dokter spesialis paru RS Premier Bintaro.

Edukasi yang Benar

dr. Astri Indah Prameswari, Sp.P

Sesungguhnya, kuman TB tak gampang berkembang menjadi penyakit. Ketika seseorang menghirup kuman TB, hanya sekitar 20% kemungkinan langsung menjadi penyakit. “Kuman ada yang dimatikan langsung oleh daya tahan tubuh, ada yang baru menjadi penyakit ketika daya tahan tubuh melemah,” jelas dr. Astri.

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan TB juga membuat kuman TB mudah menyebar. “Penularan kuman TB lewat paparan udara yang mengandung kuman TB, bukan melalui kontak seperti berbagi tempat makan dan minum,” tegas dr. Astri.

Jadi yang lebih penting adalah memperhatikan etika batuk penderita. Yaitu menggunakan masker, atau menutup mulut ketika batuk. Tidak membuang dahak sembarangan, lebih baik buang langsung di kamar mandi dan langsung disiram.

Gejala

Kuman yang lolos dari sergapan daya tahan tubuh bisa berkembang di manapun, di kelenjar, tulang, usus, otak, dan lain-lain. “Memang yang paling banyak ke paru, karena berhubungan dengan sistem respirasi,” ujar dr. Astri.

Gejala yang timbul bermacam-macam, tergantung tempat hinggap kuman. Namun secara umum, gejala yang perlu diwaspadai adalah, berat badan turun, lemas, demam berkepanjangan, mudah berkeringat terutama pada malam hari, dan nafsu makan menurun.

Pengobatan yang Tuntas

Kuman TB ada dua jenis, yaitu yang sensitif terhadap obat dan kebal obat. Karena itu pengobatannya juga berbeda. “Yang terpenting lihat evaluasinya. Ada respon atau tidak terhadap obat yang diberikan. Kadang kuman TB bisa berubah pola, misalnya, dari sensitif jadi kebal obat. Itu sebabnya minum obat TB tidak boleh sembarangan. Harus dengan dosis yang sesuai, minum juga harus rutin, tidak boleh bolong-bolong. Karena akan berisiko si kuman berubah pola menjadi kebal,” terang dr. Astri.

Bila kuman menjadi kebal, pengobatan akan lebih sulit. Lama pengobatan untuk kuman kebal obat sekitar dua tahun. Sedangkan pada kuman yang sensitif memakan waktu sekitar 6 bulan. (YBI)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments