14-2

Dampak Negatif Belajar Online Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Belajar online di rumah ternyata tidak sepenuhnya aman. Memang meminimalisir potensi penularan Covid-19 pada anak, tapi ada dampak lain pada kesehatan. Baik secara fisik maupun mental.

Hal ini tidak terlepas dari monotonnya aktivitas anak-anak. Belajar secara daring membuat mereka mau tidak mau lebih banyak menghabiskan waktu di depan gawai. Barang pintar yang mengandung apa saja, cepat akrab dengan siapa saja, tapi juga menyimpan berbagai efek buruk.

Efek dapat terus meningkat seiring dengan intensitas pemakaian. Contohnya seusai jam belajar, anak masih aktif dengan gawainya untuk mendapat akses hiburan. Serta tidak ada pengawasan dari orang tua tentang kesepakatan aturan penggunaan dan sebagainya.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19 Pada Anak-Anak Selain Kesehatan

Terlebih, anak masih mengalami fase tumbuh kembang. Sementara belajar dari rumah membatasi hal-hal tertentu. Perlu kewaspadaaan dan kehati-hatian para orang tua sejak sekarang. Ajak anak untuk lebih bijak memakai gawai.

Gangguan pada mata

Dampak yang paling banyak menyerang adalah berupa gangguan pada mata. Bagian lensa dan kornea dipaksa terus menerus memandang layar. Paparan sinar yang terlalu terang dan jarak pandang yang terlalu dekat, rentan membuat mata anak sakit. Seperti otot mata yang menebal, kering, dan terasa gatal.

Juga menuju ke rabun jauh miopia dan akhirnya mengharuskan mereka berkacamata minus. Karena itu orang tua dianjurkan memberikan tetes mata dalam dosis yang aman, mengajak berhenti sesaat untuk tidak menatap layar gawai, dan memenuhi vitamin A dan C setiap harinya.

Obesitas

Diduga pula, anak akan mengalami obesitas. Tak hanya satu dua, tapi sangat mungkin serentak. Atau istilahnya booming.  Mengingat anak dalam jumlah jamak dan waktu bersamaan tidak banyak melakukan kegiatan fisik. Sebatas duduk, pasif, dan berkutat dengan gawai.

Baca juga: Tantangan Anak Masa Kini

Risiko obesitas kian parah ketika anak terbiasa salah makan. Misalnya terlalu banyak camilan manis, mengandung garam berlebihan, lemak dari junkfood, serta sejenisnya. Melupakan sayuran hijau dan buah. Serta memberikan keleluasaan anak menambah porsi makan tanpa mengingat angka yang ideal.

Stres

Selain dampak pada kesehatan fisik, risiko pada jiwa atau psikis juga turut membayangi. Kenali dari tanda-tandanya. Di antaranya anak sulit berkonsentrasi, mengeluh setiap saat, ingin selalu ada dekat orang tua atau pengasuh, sulit tidur, selera makan berubah, dan menunjukkan sikap yang tak biasa.

Untuk kondisi seperti ini, anak sangat membutuhkan kehadiran orang tua sepenuhnya. Sebagai pelindung dan teman bicara. Beri kesempatan anak untuk berbicara dan menyatakan masalahnya. Bila perlu, berikan waktu untuk istirahat dari kegiatan belajar online dan tidak menyentuh gawai sama sekali.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental Selama Corona Melanda

Antisosial

Disadari atau tidak, anak juga mulai terkondisikan untuk antisosial. Erat berkorelasi dengan anjuran untuk tetap di rumah saja dan menjaga jarak. Anak hanya berinteraksi dan mengenal sosial dalam lingkup terbatas. Apalagi belum bisa dipastikan pandemi akan berakhir.

Dari antisosial, jelas berpengaruh ke pembentukan pribadi dan masa tumbuh kembangnya. Ada ikatan yang terasa hilang atau pudar. Dalam hubungan pertemanan, keluarga besar, juga lingkup masyarakat. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments