23

Agar Anak Mengenal Proses dan Tak Jadi Generasi Instan

Menyenangkan dan memberikan fasilitas pada anak boleh saja. Namun ada batasnya. Anak juga perlu mengenal bagaimana di balik itu semua dapat dinikmati dengan nyamannya. Jadi tak berpikir apa yang tersaji didepannya datang secara instan.

Semuanya membutuhkan proses. Dari jerih payah orang tua guna mendapat uang yang cukup dan memenuhi segala kebutuhannya. Termasuk kehadiran orang lain yang siap kapan saja membantu. Contohnya pengasuh.

Mengapa kemudian menjadi penting mengenalkan anak pada proses? Karena ada saatnya anak harus berusaha sendiri tanpa didampingi orang tua atau pihak yang selama ini membantu. Anak perlu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk bertahan dan mandiri.

Baca juga: Membatasi Efek Glamor Dunia Gaul Anak

Terlebih saat ini pengaruh media begitu luar biasa. Lebih banyak menyuguhkan hal-hal yang tampak enaknya saja. Misalnya gaya hidup para influencer, YouTuber atau selebritas yang dominan dengan kemewahan. Seolah tanpa harus bersusah payah bekerja, hidup terus ada dalam garis kenyamanan. Padahal, bisa saja itu hanya konten di media. Tanpa anak tahu yang sebenarnya, tapi telanjur mengidolakan, dan tak mencerna bagaimana menuju ke arah sana dengan perjuangan besar.

Apresiasi tak selalu berupa hadiah

Orang tua perlu memulai dengan mengubah perspektif mengenai apresiasi. Khususnya pada momen-momen penting. Tidak harus selalu menjanjikan hadiah saat anak berhasil meraih nilai tinggi, adalah salah satunya.

Apresiasi dari orang tua dapat diberikan berupa dukungan, pelukan, kata-kata semangat, dan sebagainya. Di mana lebih ditujukan untuk membangun karakter dan menguatkan emosionalnya. Bukan melenakan anak pada iming-iming yang sifatnya berjangka pendek.

Baca juga: Mengajak Anak Akrab Dengan Pekerjaan Domestik

Membuat kesepakatan atas keinginan

Buat kesepakatan bersama atas keinginan. Tidak serta merta dikabulkan saat itu juga. Perlu disepakati kedua belah pihak. Serta orang tua tak perlu bergeming ketika anak merajuk dan tantrum. Apalagi keinginan untuk memiliki barang yang berharga mahal, bukan untuk usianya, atau terbilang langka. Ketika nanti persyaratan sesuai perjanjian sudah terpenuhi, baru anak bisa mendapat yang diidam-idamkan.

Terbiasa dengan pekerjaan domestik

Di rumah, jangan biarkan anak terbiasa terus dilayani. Berikan anak tugas-tugas khusus yang berhubungan dengan aktivitasnya. Ada berbagai opsi, antara lain cuci piring sendiri setelah makan, merapikan mainan, memasukkan baju kotor ke mesin cuci, serta masih banyak lagi. Tinggal menyesuaikan dengan umur anak dan mulai dari yang tergolong mudah. Pelan tapi jika dibiasakan, anak akan mengerti kenyamanan yang terlihat instan itu harus didahului dengan usaha dan upaya.

Melatihnya mandiri

Tambahkan daftar mandiri sebagai panduan anak dalam agenda sehari-hari. Tak mengapa anak meminta bantuan dari orang tua, tapi untuk hal-hal tertentu, ada baiknya melepaskan anak menyelesaikan urusannya sendiri. Hargai hasilnya dan terus berikan dukungan supaya anak percaya dia mampu akan potensi dirinya.

Baca juga: Kiat Melatih Soft Skill Anak Dari Rumah

Menyisihkan perolehannya untuk orang lain

Selain itu, ajak anak mengerti kondisi yang berbeda. Menyisihkan sebagian untuk diberikan pada yang membutuhkan. Uang tabungan, uang hasil lomba, mainan, baju, dan sebagainya. Sebab tak semua yang ada dalam genggaman mesti harus dinikmati sendiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments