19

Prediksi Perubahan Kehidupan Sosial Usai Pandemi

Sepertinya tatanan sosial dunia akan berubah. Tak sama lagi seperti sebelum Covid-19 hadir dan menyerbu dengan ganasnya. Perubahan yang tak hanya sebagai bentuk pertahanan, melainkan juga, barangkali, sumber terjadinya perubahan peradaban dalam skala global.

Sebab manusia dalam hidupnya tak bisa berdiam saja. Juga tampaknya tak mungkin terus menerus berdiam di rumah. Apalagi mengerjakan semuanya hanya dari tempat tinggal. Ada kebutuhan interaksi, bergaul, bercengkerama, saling bertukar pikiran, juga terjun langsung dalam suatu komunitas. Suatu kebutuhan untuk memenuhi kodratnya, yakni sebagai makhluk sosial.

Baca juga: Bagaimana Hidup Berdampingan Dengan Corona?

Sementara ada kemungkinan virus Corona tak bisa menghilang. Penghalang sosial yang tak mudah disingkirkan. Butuh perlakuan untuk melawan, atau sebutan yang lebih halusnya beradaptasi. Hidup berdampingan yang bakal mengubah wajah sosial sehari-hari. Bagaimana kelak manusia berinteraksi satu dengan yang lain, lalu seiring berjalannya waktu dianggap sebuah kenormalan.

Meski di awal terkesan mendadak, namun jadi biasa karena telah terbiasa. Menuju suatu bentuk sosial yang tak terbayang sebelumnya.

Terdorong untuk selalu jaga jarak

Anjuran untuk menjaga jarak, barangkali akan terus terbawa. Dengan sendirinya akan tercipta oleh alam bawah sadar. Khususnya di tempat umum dan dengan orang yang tak dikenal. Ditambah penggunaan masker sebagai penegas bahwa ada sesuatu yang perlu dihindari.

Bila dilihat dari satu sisi bertujuan menjamin kesehatan. Akan tetapi berpotensi pula menciptakan rasa sosial yang kering. Tidak ada tegur sapa, jabat tangan, pelukan, obrolan ringan, serta rasa hangat ketika berpapasan. Yang mendominasi justru pandangan dingin dari wajah yang sebagian tertutup rapat. Padahal bisa saja itu adalah orang yang kita kenal.

Baca juga: Saat Harus Masuk Kerja Lagi Usai PSBB

Dominan interaksi virtual

Sebagai gantinya, interaksi sosial malah semarak di dunia virtual. Lewat berbagai aplikasi percakapan dan video tatap muka. Diutamakan untuk mengurangi pertemuan fisik namun tetap memenuhi keinginan berinteraksi. Maka tak aneh jika kebutuhan gawai menjadi salah satu yang utama.

Cenderung phobia dengan dunia luar dan keramaian

Usai pandemi, manusia juga diprediksi akan punya rasa phobia terhadap dunia luar dan keramaian. Mengingat keduanya dapat menularkan virus. Selalu menaruh rasa waspada, curiga, dan hati-hati setiap saat. Mengurangi minat berkenalan dengan seseorang, tak ingin berlama-lama di luar, serta cenderung terselip rasa takut saat menggunakan fasilitas umum.

Gotong royong dalam bentuk lain

Walau terkesan kian individualias, kaku, dan gap yang lebar, rasa untuk bergotong royong tetap ada. Akan tetapi dalam bentuk yang lain dan mengunggulkan kecanggihan teknologi sebagai sarananya. Salah satunya, ajakan membantu sesama di media sosial atau bahu membahu memberikan ide atas masalah tertentu. Bagaimana konkritnya di dunia nyata? Diwakili lembaga tertentu yang telah terlegitimasi. Hadir bak perwakilan resmi atas individu-individu. Oleh karenanya tak bisa terburu-buru untuk menyebut nantinya manusia jadi tak peka pada sesama dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Strategi Bertahan Di Era Pandemi  

Minimalisir dalam pemakaian barang bersama

Perubahan juga tampak pada fenomena pemakaian barang bersama yang turun drastis. Dalam arti, hampir tiap individu lebih memilih menggunakan barangnya sendiri. Terutama fasilitas yang akan langsung mengenai fisiknya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments