17

Mitos Seputar Melahirkan yang Tak Perlu Selalu Diikuti

Setelah melahirkan, para ibu sering dihadapkan pada mitos tertentu. Sebagian besar karena tradisi atau kepercayaan. Beberapa mitos sudah tidak relevan dan bahkan bisa mengganggu kesehatan ibu yang baru melahirkan.

Beberapa mitos acapkali tidak dapat dijelaskan secara rasional mengenai manfaatnya. Hanya berupa perintah wajib untuk ditaati dan bayangan mengerikan andai tidak mematuhi. Sementara tak jarang begitu dijalani, mitos juga menghadirkan rasa tak nyaman bagi ibu yang baru melahirkan.

Tak jarang pula, gara-gara mitos, para ibu jadi kerepotan mengurus bayinya. Atau sedikit melanggar saja sudah mendapat penilaian yang menyudutkan dari keluarga maupun orang lain. Dampak negatif yang tentunya bisa mengarahkan para ibu ke hal yang negatif.

Baca juga: Bantu Ibu Melahirkan Terhindar Dari Baby Blues

Dalam kacamata medis, mitos tak selalu dinilai salah. Hanya saja perlu dipandang dengan bijak. Memilah, menyesuaikan dengan kondisi, serta berpikir akan gunanya. Apalagi jika bukan untuk kesehatan fisik dan mental para ibu melahirkan dan bayinya juga.

Posisi kaki harus lurus

Konon begitu bayi lahir, kaki ibu harus selalu dalam posisi lurus dan rapat. Sampai nanti masa nifas selesai. Bila tidak, kelak dapat mengalami varises atau otot kaki sakit saat tua. Padahal secara medis ini tidak benar. Kaki ibu melahirkan boleh berposisi lebar seperti saat berjalan, bahkan jongkok sekalipun.

Minum jamu 40 hari

Ibu hamil wajib minum jamu selama 40 hari. Mitos berbahaya jika tidak bisa memastikan kandungan apa yang ada di dalamnya. Mengingat bakal berpengaruh ke tubuh bayi lewat asi. Juga dikenal tak baik bagi kondisi rahim yang sedang dalam masa pemulihan. Seperti paket jamu melahirkan yang banyak beredar tanpa izin resmi.

Baca juga: Bentuk Dukungan Ayah Untuk Ibu Menyusui

Secara medis, disarankan minum jamu yang alami dan dibuat sendiri. Porsinya pun secukupnya, tak perlu terus menerus sampai membuat ibu menderita.

Penggunaan stagen

Dengan memakai stagen diharapkan perut kembali kencang dan kembali ke bentuk tubuh yang ideal. Padahal fungsinya tak lebih dari penopang otot perut yang masih menggelambir. Bentuk perut yang kembali kencang dan ideal tergantung dari asupan nutrisi dan olah gerak fisik. Bukan semata-mata mengandalkan stagen. Terlebih yang sampai menekan dan menyesakkan napas.

Aturan mandi tertentu

Ibu baru melahirkan pada dasarnya bebas untuk mandi. Anggapan harus menggunakan air hangat dan tidak boleh air dingin, atau harus keramas setiap pagi dengan harapan asi lancar, mesti dipikirkan ulang. Nikmati selagi mandi. Tubuh jadi segar, kebersihan terjaga, pikiran juga lebih tenang.

Dilarang makan ikan

Masih banyak mitos yang melarang ibu mengonsumsi ikan. Khawatir bayi akan berbau amis. Faktanya nutrisi yang terkandung pada ikan sangat dibutuhkan bagi tubuh ibu maupun asi yang lebih berkualitas. Terlebih tak terbukti ibu yang memakan ikan, bayinya jadi bau amis.

Baca juga: Mitos Kehamilan Yang Merugikan

Tak boleh keluar rumah

Mengenai tak boleh keluar rumah, tinggal bagaimana kita memandang mitos yang satu ini. Mungkin ada benarnya. Ibu baru melahirkan perlu waktu banyak beristirahat di rumah. Namun, sekadar mencari angin segar di sekitar tempat tinggal, menjemur bayi, atau mengantar imunisasi tentu tak bisa disalahkan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments