architectural-design-architecture-banks-barclays-351264

Keringanan Perbankan yang Bisa Dimanfaatkan

Sejak awal kemunculannya, Covid-19 telah meluncurkan serangan tajam ke perekonomian. Pemerintah sendiri dari Maret lalu mencoba mengantisipasi dengan memberikan intensif atau keringanan. Yang mana bisa dimanfaatkan terkait urusan perbankan.

Tentu ada syaratnya. Diutamakan keringanan ini bisa menyasar langsung pada pelaku usaha menengah dan mikro, kelas menengah ke bawah, para pengusaha yang bisnisnya terjun bebas, juga khayalak ramai yang terdampak langsung.

Sementara, mekanismenya diserahkan pada masing-masing bank. Dengan tetap di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sehingga bank yang satu dengan bank yang lain dapat mengeluarkan kebijakan yang berbeda, namun masih dalam satu nada, yakni memberikan keringanan. Pihak yang ingin terbantu harus memenuhi syarat tertentu untuk bisa dipenuhi permintaannya.

Baca juga: Kenali Modus Skimming Kartu ATM Agar Tak Jadi Korban

Selain itu, OJK juga meminta agar pengajuan syarat keringanan dilakukan tanpa harus pergi ke bank. Ijab dan kabulnya cukup melalui daring. Apalagi jika bukan untuk mendukung protokol kesehatan dan menghalangi adanya kerumunan.

Dikeluarkannya keputusan ini jelas dilatarbelakangi alasan kuat. Yakni agar roda perekonomian, fluktuasi keuangan, dan stabilitas berjalan lancar. Mengingat konsumsi masyarakat tak bisa ditunda, sementara pemasukan berkurang yang menjadi penghalang mereka memenuhi kewajiban pada perbankan. Bila dibiarkan, krisis akan lebih cepat datang dan lebih hebat cengkeramannya dibanding tahun 1998.

Penundaan pembayaran angsuran

Salah satunya adalah penundaan pembayaran angsuran. Keringanan untuk menunda membayar cicilan kredit pada bank. Akan tetapi, disarankan oleh OJK pada bank, hanya ke pihak yang benar-benar terdampak. Bahkan juga telah diterbitkan aturan penundaan angsuran motor atau kendaraan.

Baca juga: Usaha Lepas Dari Utang Kartu Kredit

Semuanya telah diatur dalam beberapa skema. Tergantung dari kerugian atau kelemahan yang ditanggung pihak debitur. Saat dipastikan debitur benar-benar tidak bisa mengangsur sama sekali, bunga dan cicilan sementara bisa dihentikan. Namun ingat, semua ini sifatnya hanya penundaan. Debitur akan kembali ditagih begitu pandemi corona selesai, atau di akhir masa angsuran, atau sesuai kesepakatan yang dibuat dengan pihak bank.

Keringanan pajak

Keringanan lain mencakup pada pajak. Insentifnya diberikan pada wajib pajak pribadi, bukan wajib pajak badan. Misalnya penurunan atau penghilangan pungutan pajak pada penghasilan atau jenis pajak yang harus ditanggung pribadi.

Baca juga: Langkah Mudah Menghitung Pajak Sendiri

Meski demikian, pemerintah tetap memutuskan melunakkan pajak bagi pihak atau barang-barang sehubungan dengan Covid-19. Misalnya pungutan pajak ke obatan-obatan, vaksin, pakaian pelindung, alat perawatan pada pasien, dan sebagainya. Keringanan pajak juga diarahkan untuk jasa konstruksi, jasa konsultasi, teknik, manajemen, persewaan, dan jasa pendukung lain yang mendukung penangangan wabah corona.

Penundaan pembayaran KPR

Kredit pemilikan rumah (KPR) juga mengalami restrukturisasi pembayaran. OJK memperkenankan hanya debitur yang mempunyai tagihan dibawah 10 miliar yang boleh mengajukan keringanan ini. Waktu penundaan pembayaran pun disesuaikan dengan skema yang telah dibuat. Ada yang 3 bulan, 6 bulan, bahkan sampai satu tahun.

Baca juga: Jenis Pajak Transaksi Jual Beli Rumah

Untuk yang benar-benar terdampak, bisa tidak bisa membayar sama sekali. Akan tetapi tagihan akan tetap dibebankan pada tahun angsuran terakhir. Jadi, ada penambahan sekian rupiah di masa akhir nanti. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik, Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

 

Comments

comments