24

Mengapa Orang Mudah Berkomentar Negatif Di Media Sosial?

Menemukan komentar negatif di media sosial saat ini terbilang sangat mudah. Bahkan mungkin lebih banyak jumlahnya ketimbang komentar positif dari warganet. Apa alasan di balik fenomena seperti ini?

Komentar negatif bisa diartikan sebagai kritik yang tidak membangun. Menggunakan kata-kata kasar, ujaran kebencian yang mengarah ke hate speech, juga kerap bernada rasis. Bisa ditujukan pada siapa saja. Terutama tokoh terkenal, seperti artis dan politikus, atau pada peristiwa tertentu. Uniknya komentar negatif yang ditulis kadang tidak berkorelasi dengan konten. Alias asal saja.

Baca juga: Tidak Perlu Baper Di Media Sosial

Lalu, bukan tanpa tujuan sama sekali. Komentar negatif kerap kali diniatkan untuk menjatuhkan, merendahkan, atau berharap yang dituju jadi jera. Apalagi saat menemukan pemilik akun mengunggah konten yang dinilai kontroversial. Mulai dari menyinggung masalah sensitif, berlawanan dengan kebiasaan serta norma umum, tidak mendukung kepentingan publik, dinilai tidak memiliki empati, dan sebagainya. Dari sebuah komentar yang ditulis singkat saja, cenderung akan diikuti dengan perang kata-kata. Baik oleh pemilik akun dengan si pemberi komentar, maupun antar warganet sendiri.

Sebagai ekspresi dan pelampiasan

Salah satu sebabnya tidak terlepas dari status media sosial sebagai wadah ekspresi tanpa batas. Di mana siapa saja bebas mengungkapkan emosi dan pikiran. Secara mudah, murah, dan dapat menjangkau ke banyak lini. Kesempatan luas untuk menyalurkan yang terendap dalam diri.

Ekspresi dan pelampiasan yang dikemas dalam komentar negatif juga tidak terlepas dari kondisi si penulis. Situasi psikologis internal dan latar belakang yang dipegang. Misalnya asal usul, tingkat pendidikan, merasa insecure, merasa lebih jago, dan sejak awal sudah antipati.

Merasa tidak kenal

Terpicu pula oleh rasa tidak kenal. Jadi ada unsur pemahaman tak mengapa berkomentar karena tak bertatap muka dan bukan orang dekatnya. Artinya kemungkinan kecil mengalami reaksi spontan dari pemilik akun, seperti saat bertatap muka secara langsung. Walau tetap menyadari akan adanya balasan kata-kata. Risiko yang keliatannya saja tampak lebih ringan.

Baca juga: Balasan Telak Untuk Mom Shamer

Saling tak mengenal seolah juga menyediakan kesempatan untuk tak perlu tanggung jawab dan merasa bersalah atas komentar yang telah ditulis. Kebebasan yang tentunya salah kaprah. Sebab tetap ada dampak yang nantinya harus ditanggung. Dari di-blocked, ditandai sebagai akun hitam, dilaporkan pada situs terkait, hingga ancaman pidana.

Berlindung dengan akun palsu

People holding icons of digital brands

Mudahnya seseorang melemparkan komentar negatif, di sisi lain, akibat berlindung dengan akun palsu. Yakni akun yang tak menggunakan identitas sebenarnya. Akun yang juga dikhususkan untuk tujuan tertentu. Misalnya sekadar kepo urusan orang lain, mem-follow beberapa akun, sebagai silent readers, termasuk untuk urusan menghujat tadi. Dengan harapan pemilik akun dan warganet tidak akan mengetahui jati diri yang sesungguhnya.

Baca juga: Cara Jitu Tanggapi Komentar Negatif Di Media Sosial

Namun hati-hati. Meski kesannya tetap aman berlindung dibalik akun palsu, akun bisa tetap ditelusuri jejaknya. Persis seperti banyak warganet yang ditangkap kepolisian gara-gara komentar negatifnya. Dengan ancaman UU ITE dan pasal berlapis lainnya. Ketimbang menjerumuskan diri sendiri ke penjara, lebih baik pikir seribu kali sebelum mengetik kata per kata di media sosial. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments