11-1

Dampak Pandemi Covid-19 Pada Anak-Anak Selain Kesehatan

Covid-19 bisa mengenai siapa saja. Tak terkecuali anak-anak. Namun, ternyata bukan saja mendatangkan masalah kesehatan. Ada dampak lain yang selama ini jarang terpikirkan. Yakni sisi lain yang sangat berpengaruh dan berdampak secara jangka panjang.

Seperti dalam laporan Unicef Indonesia berjudul Covid-19 Dan Anak-Anak Di Indonesia, yang dirilis pada 11 Mei lalu. Anak-anak terancam mengalami hal-hal tidak menyenangkan sebagai imbas kondisi di luar dan juga kondisi keluarga yang tidak menguntungkan. Khususnya anak-anak yang sebelumnya sudah berada di garis kemiskinan. Dampaknya berpotensi naik berkali-kali lipat tergantung dari faktor yang melekat pada diri mereka. Dari satu dampak, biasanya cenderung diikuti dampak-dampak yang lain.

Baca juga: Tantangan Anak Masa Kini

Mereka membutuhkan bantuan dan perlindungan nyata. Karena tentu dampak yang dialami sekarang tidak mudah menghilang. Akan terbawa dan mewarnai masa tumbuh kembangnya. Terlebih tidak ada yang bisa menjamin kapan krisis akan segera berakhir. Sementara kita semua tahu bahwa anak-anak kerap merasa tak berdaya dengan apa yang mereka terima. Meski mengerti haknya tercerabut dan dalam kondisi berbahaya. Akibat status dan ketergantungan yang begitu tinggi pada orang-orang terdekatnya.

Menuju kemiskinan

Salah satunya ialah rentan menuju kemiskinan. Tak terlepas dari menurunnya pemasukan orang tua atau wali. Begitu pula anak-anak yang selama ini berada dalam naungan lembaga, seperti panti asuhan.

Berkurangnya pendapatan orang tua, misalnya karena PHK, otomatis membuat status keluarga secara ekonomi merosot. Bisa ditebak, kemiskinan lalu menyeret dan mengajak serta kondisi-kondisi buruk lainnya. Orang tua dan anak mesti siap dengan segala perubahan. Atau bersiap dari kondisi yang sebelumnya terkategori aman, menuju kondisi terkini tanpa garansi untuk esok-esok hari.

Baca juga: Waspada, Bahaya Dibalik Si Montok

Kurang gizi

Pemasukan yang menurun membuat perubahan besar pada keluarga. Di antaranya penghematan dalam berbagai sisi.

Di mana bila kemudian anak menjadi kurang gizi, hal ini lantaran adanya opsi pada nutrisi yang tidak ideal.

Akan tetapi sebisa mungkin tetap memenuhi urusan pangan sekeluarga. Barangkali yang paling murah, asal mengenyangkan, dan bisa disimpan lama di rumah. Tak peduli lagi mengandung gula tinggi, junk food, atau makanan instan. Fenomena seperti ini lama kelamaan membuat anak tumbuh dengan gizi buruk. Ada pula kemungkinan tumbuh dengan obesitas, yang dekat dengan aneka penyakit berbahaya.

Krisis pembelajaran

Nyaris kini semua sekolah tutup. Belajar di rumah, meski lewat daring, tetap menghasilkan kekurangan besar. Plus ketiadaan interaksi sosial yang dulu bisa diisi dengan teman-teman. Proses menguasai ilmu pun semakin lama. Bahkan diduga akan banyak pengetahuan yang hilang jika anak tidak mendapat fasilitas dan bantuan dengan segera. Khususnya anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

Baca juga: Dampak Nyata Kekerasan Pada Anak 

Rawan keamanan dan pengasuhan

Ternyata dengan tetap di rumah saja, anak-anak juga rentan dengan kekerasan dalam pola asuh. Termasuk pelecehan dan penelantaran. Di mana akhirnya berujung pada ketakutan, stres, dan depresi. Kekerasan diterima oleh anak yang terutama memiliki hubungan tidak harmonis dengan orang tua mereka. Ditambah anak tidak memiliki akses untuk mengadu dan menghentikan perbuatan tak baik pada diri mereka. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels, Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments