01

Meneladani Pancasila Guna Menjaga Kesatuan Bangsa

Bulan Juni dimulai dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Sebuah pedoman hidup bangsa yang sarat sejarah dan fungsinya. Terutama saat masa pandemi sekarang agar kehidupan berbangsa terus terjaga.

Pancasila lahir dari diskusi panjang dan kesepakatan di antara elit-elit politik, atau tepatnya para pendiri bangsa. Tujuannya agar bangsa Indonesia mempunyai karakter sendiri, kepribadian, serta mampu menjalankan roda kehidupan dengan berdaya. Sebab Pancasila dipersiapkan untuk menyongsong kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.

Baca juga: Merawat Kehidupan Berbangsa

Atas hasil diskusi yang alot nan panjang, Pancasila kemudian dirumuskan dalam lima kalimat yang hingga kini terus dipegang teguh. Memayungi masalah keyakinan, kemanusiaan, persatuan, kerakyataan, dan keadilan sosial. Tak hanya sebagai simbol, namun juga pegangan guna menentukan arah ke depan.

Lalu, apakah nilai-nilai tersebut masih berlaku, khususnya saat krisis seperti sekarang? Tetap berlaku dan justru perlu dikencangkan lagi. Pasalnya ada begitu banyak problema yang muncul saat pandemi, sementara nilai-nilai Pancasila mulai luntur terlupakan.

Gotong royong

Pandemi telah menimbulkan dampak yang beragam. Banyak sektor berhenti mendadak dan meninggalkan efek berkepanjangan. PHK dimana-mana, penjualan dan produksi terhenti, kegiatan sekolah berubah, pariwisata tak bergerak, dan masih banyak lagi. Semua terasa sulit. Tak ada pemasukan, juga ancaman nyata pada kesehatan.

Tetapi yang tak boleh hilang adalah semangat kebersamaan. Atau yang sedari dulu disebut dengan gotong royong.

Saling bahu membahu mengatasi masalah bersama. Terutama pada mereka yang terdampak langsung dan tiada pemasukan. Sedikit bantuan tentu akan sangat berharga. Juga termasuk dengan tetap di rumah saja untuk mencegah penyebaran virus agar pandemi cepat selesai.

Kesatuan dan kepercayaan

Selain itu, asas kesatuan dan kepercayaan mesti erat sepenuhnya. Era pandemi langsung atau tidak, rasa-rasanya telah meningkatkan suhu panas di berbagai segmen. Apalagi sebelumnya fenomena sosial telah tersegrerasi dan tumbuh dimana-mana. Muncul kotak-kotak yang makin kuat dalam lini sosial. Belum lagi bertebaran kritik yang, adakalanya, tidak tepat. Pada akhirnya lapisan bawah kian terbelah.

Baca juga: Mengapa Orang Mudah Percaya Berita Hoax?

Sudah saatnya untuk mengakhiri. Kesatuan dan kepercayaan harus dikencangkan lagi. Mengkritik tentu boleh, dengan catatan sehat dan terarah. Tak boleh lagi berharap hanya untuk kepentingan diri atau kelompok saja. Jika begini, secara keseluruhan, pandemi bakal terus berjalan. Rawan tersusupi oleh hasutan oknum yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai kembali ke masa di mana bangsa ini dikendalikan oleh pihak lain. Sebab yang bakal merasakan sengsaranya juga kita sendiri.

Keanekaragaman 

Satu lagi yang perlu dirawat dari Pancasila ialah keanekaragaman. Nuansa Bhineka Tunggal Ika yang tetap lestari dalam setiap nafas negeri ini. Kita telah dianugerahi dengan kekayaan suku, agama, ras, budaya, juga berbagai tradisi.

Baca juga: Bekerja Di Negara Tak Aman

Ketika kemudian kita hanya menonjolkan perbedaan maka sudah pasti perpecahan mudah terjadi. Berbeda bila sebaliknya, walau memang susah dan butuh kerjasama diantara semua. Menjaga kekayaan bakal jadi modal besar untuk keberlangsungan di masa mendatang. Kelak, saat pandemi usai, kita dapat bertepuk tangan dan bangga dengan apa yang kita punya karena bersatu oleh Pancasila. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments