03

Tradisi Unik Berbagai Daerah Sambut Ramadan

Beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi menyambut Ramadan. Tradisi tersebut adalah salah satu daya tarik bagi wisatawan. Sayangnya, tradisi tersebut tahun ini tak bisa terselenggara karena  pandemi Covid-19.

Selain menjadi objek wisata, tradisi-tradisi tersebut memiliki makna yang dalam. Pembauran antara budaya masyarakat dan Islam. Ada nilai-nilai sosial dan budaya yang tinggi.

Padusan Boyolali

Foto: Boyolali.go.id

Padusan dalam bahasa Jawa berarti mandi atau pemandian. Acara ini digelar di Umbul Ngabean, yang merupakan peninggalan Paku Buwono X, Keraton Surakarta. Acara dimulai dengan siraman kepada duta wisata yaitu Mas dan Mbak Boyolali. Setelah itu Mas dan Mbak Boyolali turun ke kolam berbentuk bundar.

Makna dari tradisi Padusan ini adalah bahwa bersama-sama membersihkan diri, baik jasmani dan rohani dalam menyambut bulan Ramadan. Sehingga ibadah selama bulan Ramadan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Baca juga: 5 Kecerdasan Anak yang Diasah Lewat Puasa

Biasanya, saat menuju Umbul Ngabean dilakukan kirab oleh warga. Ada drumband dan penari air. Para pegawai pemerintahan pun mengenakan pakaian tradisional Jawa.

Kirab Dandangan Kudus

Foto: Republika.co.id

Dulu setiap menjelang Ramadan, para santri di Kudus berkumpul di depan Masjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman awal puasa dari Sunan Kudus. Saat awal puasa telah ditentukan, dilakukanlah penabuhan bedug dari menara masjid. Bunyi bedug “dang…dang…dang” inilah yang akhirnya membuat tradisi di Kudus ini disebut Dandangan.

Semakin lama, semakin banyak santri dan masyarakat yang berkumpul di depan masjid. Akhirnya banyak pedagang yang menjajakan jualannya untuk mengais rezeki. Akhirnya, tradisi tersebut berkembang menjadi kirab budaya, pasar malam, dan pentas kolosal visualisasi tradisi Dandangan.

Nyadran Temanggung

Foto: Solopos.com

Nyadran atau sadranan adalah tradisi berdoa dan makan bersama yang berlokasi di kuburan desa atau pemakaman umum. Ratusan masyarakat Dusun Kajeran, Temanggung, Jawa Tengah berbondong-bondong ke pemakaman umum sambil membawa aneka makanan. Ada ayam utuh (ingkung) serta lauk pauk lainnya yang diletakkan dalam wadah dari anyaman bambu yang disebut tenong.

Sampai di lokasi, warga duduk berjajar di atas tikar, tenong dibuka dan makanan beserta tumpeng disajikan di atas daun pisang. Lalu digelar pembacaaan doa yang dipimpin oleh kiai atau ustaz. Setelah itu warga langsung bersama-sama menyantap makanan sambil saling menyapa dan bertukar makanan.

Baca juga: 6 Cara Ampuh Usir Kantuk Saat Puasa

Tradisi tesebut merupakan alat pemersatu dan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga yang berbeda keyakinan. Karena pada acara tersebut warga dari berbagai latar belakang agama berkumpul dalam kegembiraan dan menanggalkan perbedaan.

Namun tahun ini, tradisi ini menuai polemik di masyarakat desa. Karena ada masyarakat yang memilih tidak melaksanakan karena khawatir penularan wabah Corona, namun ada yang ingin tetap menjalankan tradisi Nyadran. Akhirnya diambil jalan tengah, yaitu dilakukan Nyadran online. Pemuka agama membaca tahlil di masjid menggunakan pengeras suara, dan warga mengamininya dari rumah. (YBI)

 

Foto ilustrasi: Freepik

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments