04

Perisai Anak Agar Terhindar dari Kejahatan Seksual

Tidak setiap saat orang tua bisa menjaga anak-anaknya. Sementara kejahatan bisa mengintai kapan saja. Termasuk predator seksual. Harus ada bekal atau perisai yang perlu diajarkan pada anak supaya mereka lolos dari jeratannya.

Minimal mereka akan berdaya dengan dirinya sendiri. Tidak pasrah, ketakutan, atau malah berdiam diri menerima perlakuan tak senonoh. Tentunya harus didukung oleh orang tua sepenuhnya. Yakni terbuka pada segala hal yang dikeluhkesahkan, selalu peka terhadap anak yang rasa, dan sebagainya. Jika perlu tambahkan materi pendidikan seks di rumah.

Baca juga: Alasan Dibalik Orang Tua Tak Mengenalkan Sex Education Pada Anak

Bekal ini juga tak hanya untuk anak perempuan. Tapi juga penting diterima anak laki-laki. Serta jangan tunggu mereka hingga dewasa. Mulai dari sekarang, walau mereka belum menginjak sekolah formal. Lebih cepat lebih baik. Sebab predator seksual tak mengenal waktu dan sasaran mereka.

Hargai kemauannya

Awali dengan menghargai kemauannya. Seringkali kita memaksakan kehendak yang berhubungan dengan fisik. Misalnya mencium, memeluk, dan bersalaman karena gemas. Begitu anak merasa menolak, lebih baik patuhi.

Hal ini menunjukkan bahwa anak sebenarnya mengetahui batasan keinginan, namun kerap tak dianggap penting oleh orang dewasa.

Dengan belajar menghargainya, anak juga belajar untuk mempertahakan kebutuhan sentuhan dengan orang lain dalam batasan yang wajar. Bukan terpaksa diam, lantaran sering dipaksa.

Belajar tentang insting

Anak juga memiliki insting, sama seperti orang dewasa. Karenanya orang tua perlu menghormati. Contohnya saja, anak merasa tak nyaman dengan orang yang baru ketemu. Maka, jangan paksa anak langsung akrab. Hargai rasa tak amannya. Insting yang boleh jadi benar, meski kadang anak susah membahasakan dengan lisan.

Baca juga: Mengapa Anak Rentan Jadi Target Kejahatan Seksual

Membedakan anggota tubuh

Sangat urgen membuat anak peka membedakan anggota tubuh yang boleh dan yang tidak boleh disentuh. Mudahnya orang tua bisa menggambarkan bagian tubuh yang tertutup baju dalam tidak boleh disentuh oleh sembarang orang. Meski demikian, tak boleh pula menerima sentuhan tanpa izin di bagian bibi, paha, dan sebagainya.

Terbuka tentang rahasia

Lalu ajarkan mengenai rahasia. Tidak semua rahasia harus disimpan sendiri. Ada beberapa yang perlu diceritakan pada orang tua. Misalnya rahasia berupa ancaman dari orang lain, perlakuan yang telah membuatnya malu, dan masih banyak lagi. Keterbukaan ini tidak akan membuat anak berpikir dua kali meminta bantuan saat dia mengalami masalah.

Membangun jaringan

Di samping dari sisi anak, orang tua perlu membangun jaringan kuat di antara sesama. Sistem perlindungan dari sesama orang tua teman anak, tetangga, anggota keluarga besar, pengasuhnya di rumah, serta lain-lain.

Semakin kuat jaringan proteksi yang digencarkan, ruang gerak predator seksual anak akan semakin sempit.

Tak terkecuali turut bersama-sama mengawasi interaksi anak di dunia maya.

Baca juga: Bahaya Mengintai Saat Anak Menonton Tak Sesuai Usia

Cara minta tolong

Jangan lupa untuk mengajarkan cara minta tolong yang benar. Yakni dengan berteriak dan segera menuju keramaian. Akan tetapi bukan memanggil mama atau papa, melainkan berteriak yang kencang dengan kata “tolong”. Teriakan yang akan membuat publik jadi peka ada yang membutuhkan bantuan segera. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments