04

Ini Alasan Mengapa Bayi dan Anak Jarang Terkena Virus Corona

Virus Corona atau Coronavirus Disease 19 (COVID-19) memang menular, bahkan dapat menyebabkan kematian. Wajar bila bunda khawatir dengan kesehatan buah hati. Namun tak perlu terlalu panik. Yang mengejutkan, sejauh ini data menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang terinfeksi virus corona sangat rendah. Hanya sekitar satu persen untuk usia 10-19 tahun. Bahkan untuk usia di bawah 10 tahun, jumlahnya kurang dari satu persen.

Beberapa ahli kesehatan juga menyebutkan, bahwa anak yang terkena COVID-19 menunjukan gejala yang sangat ringan, dibanding orang dewasa. Sebuah penelitian yang dilakukan di Wuhan, Cina, dan telah diterbitkan di JAMA Network menyimpulkan hal tersebut.

Baca juga: Agar Si Kecil Tak Tertular Sakit Saat Kumpul Keluarga

Penelitian tersebut dilakukan terhadap sembilan bayi usia satu hingga 11 bulan yang dirawat karena COVID-19 dari anggota keluarga. Empat bayi mengalami demam dan dua mengalami batuk. Gejala tersebut sangat ringan dibanding yang timbul pada orang dewasa. Dan tak satu pun dari bayi-bayi tersebut mengalami komplikasi berat.

Kekebalan dari Ibu

Memang, para peneliti belum mengetahui alasan pasti mengapa angka kejadian COVID-19 pada anak sangat rendah. Beberapa peneliti menyebutkan kemungkinan anak-anak tersebut tak teruji karena hanya memiliki gejala yang ringan, seperti flu biasa.

Peneliti lain mengaitkan kekebalan dari ibu yang menyebabkan anak, terutama bayi, mengalami gejala yang lebih ringan.

Sedikitnya jumlah anak yang terkena COVID-19 bisa jadi karena mereka masih menyusui.

“Air susu ibu (ASI) menyebabkan anak memiliki imunitas tubuh yang tinggi,” ujar Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D, DSC, MBA, FRSC, Molecular Pharmacologist yang juga Director, Business Development dan Scientific Affairs dari Dexa Group.

Belum Terbukti Menular ke Janin

Lalu bagaimana bila wanita hamil terkena COVID-19? Untungnya, hingga saat ini belum ada kasus anak yang dilahirkan oleh ibu positif COVID-19 tertular virus tersebut. Menurut Raymond pada salah satu seminar di Woman’s Fair Titan Center, ada kasus di mana di Cina ditemukan ibu hamil yang terkena COVID-19. “Ternyata anak yang dilahirkan tidak tertular COVID-19,” jelasnya.

Beberapa tes telah dilakukan untuk mengetahui apakah virus tersebut ditularkan dari wanita hamil ke janin.

Para peneliti mengambil sample dari air ketuban, plasenta, dan air susu ibu yang tertular COVID-19. Hasilnya, tidak ditemukan virus tersebut pada sample maupun cairan tersebut.

Namun menurut Sallie Permar, profesor pediatri dan imunologi dari Duke University School of Medicine, tetap perlu penelitian lebih lanjut karena penelitian tersebut hanya berdasarkan sedikit kasus.

Tak Tahan di Suhu Panas

Meski jumlah anak yang terkena COVID-19 sangat rendah, tak ada salahnya tetap waspada. Namun tak perlu juga panik. Yang paling utama, ajarkan anak untuk mencuci tangan, tingkatkan daya tahan tubuhnya dengan makanan yang bernutrisi.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kebersihan Mulut dan Tangan Si Kecil

Dan sebaiknya tidak membawa si kecil ke tempat yang ramai dulu. “Diperkirakan kejadian COVID-19 akan menurun seiring dengan naiknya suhu udara. Jadi diperkirakan bulan April nanti virus ini akan menghilang. Karena virusnya tak dapat bertahan hidup di suhu yang panas,” ujar Raymond. (YBI)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments