01

Kuliner yang Merugikan Saat Wisata

Wisata sambil berkuliner merupakan paduan yang tepat. Menikmati waktu liburan sembari menyantap sajian yang lezat dan menjadi ciri khas tempat wisata setempat. Sayangnya belum tentu demikian. Ada saja kondisi yang membuat kulineran malah merugikan.

Kondisi yang seharusnya diwaspadai oleh setiap calon pembeli. Apapun keadaan yang menyertai. Misalnya sendiri, berombongan, membawa orang tua, anak-anak, dan sebagainya. Dalam kapasitas anggota yang besar, kerugian yang ditanggung akan semakin besar.

Oleh karenanya, hati-hati. Jangan mudah terperdaya oleh iklan yang disebarkan oleh pihak kuliner. Atau tergiur hanya pada jepretan foto yang diunggah di media sosial. Terlihat bagus, namun ternyata mengecewakan juga. Sebab pada akhirnya, kerugian yang menanggung juga Anda sendiri.

Baca juga: Makanan Dan Minuman Spesial Liburan

Dan ingat, seringkali mencicipi kuliner akibat tak ingin ketinggalan yang sedang nge-hits. Walau yang tenar bukan menunya, melainkan lokasinya. Coba timbang baik-baik. Misalnya berkaitan dengan selera,  gaya keluarga, atau tujuan dari kuliner itu sendiri. Tak semua yang happening harus diikuti.

Harga selangit di luar dugaan

Sepertinya memasang harga selangit tanpa mencantumkannya dalam lembar menu sama saja dengan pemalakan. Hal yang sangat sering membuat pengunjung kecewa setelah menerima tagihan. Berujung pada perdebatan hebat, antara penjual dan penikmat kuliner.

Terlebih harga tidak sesuai dengan yang tersaji. Hilang semua rasa nikmat yang telah meresap. Yang tersisa hanyalah berupa emosi meluap-luap. Uringan-uringan sampai merutuki diri telah sesal menyantap makanan di sana. Kondisi yang sangat merusak agenda wisata.

Rasa tidak sesuai ekspektasi

Begitu halnya dengan rasa yang tidak sesuai ekspektasi.

Kehilangan rasa otentiknya sebab terlalu banyak kreasi, jauh dari bayangan sedap, menu tidak mampu mewakili branding yang telah dikenalkan ke publik, rasa tidak kekinian, dan masih banyak lagi kondisi yang membuat kuliner jadi merugi.

Apalagi soal rasa dari suatu masakan adalah dasar yang diburu. Sekali mengecewakan tentu berpengaruh besar dalam urusan jajan makanan. Lalu ogah untuk kembali lagi.

Baca juga: Makanan Untuk Menaikkan Trombosit

Bikin sakit

Mungkin saat menyantap tak terjadi apa-apa. Namun setelahnya tubuh menjadi sakit. Penyebab yang bersumber dari wisata kuliner. Menyantapnya hanya membutuhkan beberapa menit, namun meninggalkan efek hingga berhari-hari. Belum lagi biaya berobat dan energi yang harus dihabiskan guna istirahat. Tak ada salahnya mengenali bahan-bahan yang digunakan, alergi yang dimiliki tubuh, kebersihan, dan rasa tajam yang tak bisa ditolerir oleh lidah maupun pencernaan. Sebelum makananan benar-benar disantap, daripada merugi di kemudian hari.

Tempatnya tidak nyaman

Kemudian mengenai tempatnya. Sangat tak nyaman mendapati tempat yang tak sesuai standar pribadi. Juga sangat membahayakan urusan kesehatan. Jorok, tampak angker, tak seheboh yang terpotret, jauh dari jangkauan umum, dan sepi seperti tidak laku. Pasti jadi kenangan tersendiri, meski tak bisa dibilang sepenuhnya indah.

Baca juga: Waspada Makanan Bermikroplastik

Pelayanan jauh dari ramah

Satu lagi yang membuat agenda kuliner jadi merugikan ialah pelayanan yang jauh dari sikap ramah. Pembeli tidak mendapat servis yang selayaknya. Semuanya dikemas secara kaku dan unfriendly. Bahkan menanggapi permintaan khusus dan keluhan dengan cara-cara yang tak bersahabat sama sekali. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments