19

Contoh Perlakuan yang Bisa Menjatuhkan Mental Anak

Menjadi orang tua memang sulit. Banyak sekali contoh perlakuan yang dimaksudkan sebagai kasih sayang, namun ternyata malah berujung pada penjatuhan mental anak. Orang tua tidak menyadari, sementara anak harus menanggung beban psikologis yang berat.

Biasanya ini tidak terlepas dari karakter bawaan yang dimiliki oleh orang tua. Ada pemaksaan pada anak untuk mengikuti standar atau selera orang tua. Ketika tidak tercapai, ayah atau ibu akan melemparkan emosinya secara spontan, berkepanjangan, dan terus berulang.

Memberi label

Di usia berapapun, anak sangat peka. Coba berhati-hati jika ingin memberinya label atas sesuatu. Misalnya dengan sebutan gendut, bodoh, pemalas, dan sebagainya. Lisan singkat dalam kata yang pendek akan tetapi menanamkan stigma yang begitu kuat. Sekalipun benar begitu adanya, anak jadi tak percaya diri dan ada kecenderungan menarik diri dari lingkungan tumbuh kembangnya.

Berkata kasar

Sama halnya dengan melemparkan kata-kata kasar pada anak. Entah sumber masalah disebabkan oleh anak atau hanya terpancing oleh emosi sesaat saja.

Kekasaran yang tertancap mendalam di benak dan membuatnya merasa jatuh. Banyak kasus menunjukkan di kemudian hari anak mengalami depresi akibat terlalu sering mendapat perlakuan kasar di masa sebelumnya.

Baca juga: Mengapa Remaja Sering Labil

Membanding-bandingkan

Mungkin ada harapan agar anak lebih baik. Tapi upaya membanding-bandingkan ternyata tak selamanya berbuah manis. Justru anak tidak berkesan dan merutuki kondisinya sendiri. Contohnya saja dibandingkan dengan prestasi teman, kemampuan saudara kandung, atau potensi yang dimiliki orang tua saat seusianya. Karena itu, hargai setiap aset yang dipendam oleh anak. Sebab mereka mempunyai bakat dan minat masing-masing.

Memarahi di depan umum

Refleks memarahi anak di depan umum merupakan tindakan yang salah besar. Terlebih anak tidak menyadari bahwa yang diperbuatnya adalah kesalahan, sementara orang tua belum menginformasikan sebelumnya. Yang dipanen bukan hanya anak merasa malu, tapi juga ada perasaan tertindas oleh kesemena-menaan orang tuanya.

Kerap menyalahkan

Ketika anak berbuat salah, menyalahkan tampak seperti peristiwa yang biasa saja. Padahal tindakan demikian berefek tidak main-main. Apalagi kesalahan tergolong ringan dan ketidaksengajaan.

Anak juga membutuhkan ruang belajar dan mengambil hikmah dari kesalahan. Sementara langsung menyalahkan akan membunuh kesempatan besarnya.

Khususnya jika diikuti dengan pemberian hukuman yang tidak berhubungan sama sekali dengan kesalahannya tadi.

Baca juga: Membuat Anak Bangkit Dari Keterpurukan

Menuntut berlebihan

Menuntut berlebihan, biasanya di bidang akademik, ialah contoh lain dari upaya yang bisa menjatuhkan mental anak. Anak amat terbebani, dan tidak bahagia menyelami apa yang sedang digeluti. Terutama bidang yang ditekuni berasal dari anjuran orang tua. Potensi stres, depresi, berontak, dan pelarian diri pada yang tak sehat sangat besar.

Baca juga: Dampak Nyata Kekerasan pada Anak

Memanjakan dan over protective

Tapi ingat, orang tua yang terlalu memanjakan anak dan bersikap over protective juga dapat menjatuhkan mental. Pasalnya anak tak terlatih menangani masalahnya sendiri. Selalu hidup dalam kemudahan dan menerima uluran tangan. Kelak, anak tak siap menghadapi lingkungan yang lebih luas dan akhirnya terlambat menjadi pribadi yang mandiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments