11

Balasan Telak untuk Mom Shamer

Menyikapi perlakuan mom shamer tak bisa asal. Salah ucap dan tingkah malah kian menambah pelik persoalan. Namun bagaimanapun juga tak bisa didiamkan. Mesti ada balasan cerdas dan bijak.

Perlakuan mom shaming sebenarnya terjadi oleh banyak hal. Salah satunya adalah bentuk ketidakpuasan terhadap diri sendiri, lantas dilampiaskan pada ibu lainnya. Apalagi teriring rasa iri atau cemburu. Topiknya sendiri seputar dari cara melahirkan, menyusui atau konsumsi susu formula, menggunakan pengasuh atau dirawat sendiri, ibu bekerja versus ibu rumah tangga, pilihan pola asuh, dan sebagainya.

Baca juga: Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?

Pelakunya menggunakan standar dirinya sendiri dalam melihat kondisi ibu yang sedang dirisak. Tak peduli bagaimana situasi yang dialami oleh ibu tersebut, plus alasan dibaliknya. Yang ada adalah komunikasi satu arah dalam kalimat tak menyenangkan. Amat menyakitkan bagi yang menerima.

Tidak ada orang tua yang sempurna

Seberat apapun komentar yang diterima, sadari bahwa memang tidak ada orang tua yang sempurna. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Baik mereka maupun Anda. Bisa saja mereka tidak memahami pilihan Anda karena ketidaktahuan ilmu perkembangan dalam tumbuh kembang anak. Sehingga mudah melontarkan komentar seenak hati.

Sebaliknya, Anda juga mesti legowo. Setiap orang tua pasti memiliki tantangan yang sepertinya tak akan berhenti. Bisa datang dari keluarga, juga orang lain berupa mom shaming ini.

Jauhi mom shamer

Jauhi mom shamer sebisa mungkin. Demi kesehatan jiwa dan raga. Bila pelaku adalah kerabat sendiri yang bakal sering ketemu, minta dukungan suami untuk membantu. Dukungan dari pasangan ampuh dan bermanfaat sekali bagi ketenangan batin.

Baca juga: “Me Time” Asyik untuk Ibu Rumah Tangga

Pilih lingkaran yang sehat

Sebagai gantinya, dekatkan diri pada lingkaran yang sehat. Seperti komunitas parenting yang sama-sama peduli akan nasib sebagai ibu. Atau memilih alternatif lain semacam aktivitas olahraga. Di samping Anda bisa memetik pengalaman dan menambah pengetahuan bagi keluarga. Khususnya buah hati tersayang.

Tak perlu terpengaruh

Pilah mana yang sifatnya voice dan noise. Tak semua komentar perlu ditanggapi, terlebih diresapi, yang rentan membuat diri sendiri bimbang. Lalu terpengaruh dan menganggap segala sesuatu yang berkaitan dengan anak adalah salah. Sebab belum tentu apa yang terlihat pada diri pemberi komentar lebih baik. Jadi, olah informasi dengan lebih cermat dan bertanggung jawab lagi.

Sesekali perlu ditanggapi

Namun tak ada salahnya sesekali menanggapi. Asal jangan menggunakan emosi. Balas dengan humor atau senyum simpul saja.

Jika ingin memberikan keterangan, berikan dalam porsi secukupnya. Mereka yang melakukan mom shaming sebenarnya tidak siap menerima balasan.

Kalaupun mengakui apa yang Anda ucap merupakan kebenaran, belum tentu mereka langsung menunjukkan sikap persahabatan dan sportif.

Baca juga: Persiapan Khusus Bagi Ibu Rumah Tangga yang Akan Kembali Bekerja

Anda tetap yang paling tahu

Anda tetap yang paling tahu. Mengenai kondisi anak, keluarga, dan pilihan-pilihan yang terbaik buat mereka. Termasuk pilihan pada diri sendiri. Tak usah meratapi, atau mulai merajut pikiran akan berperilaku seperti mereka yang gemar memalukan orang lain. Lebih baik tetap syukuri dengan apa yang dimiliki saat ini. (LAF) 

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments