27

Agar Start-up Tak Sakit dan Bangkrut

Beberapa start-up besar dikabarkan mulai bertumbangan. Sama seperti membangun usaha lainnya, mengembangkan startup bukan perkara yang mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Baik sifatnya yang internal maupun eksternal.

Sebagai perusahaan rintisan dan mengunggulkan kecanggihan teknologi, startup tentu memiliki banyak pesaing. Meski pendiri dan pelaku dikenal dari golongan muda (milenial) bukan berarti menjadi jaminan sukses. Semuanya tetap membutuhkan keseriusan dan tim yang solid, serta menguasai bidangnya. Apalagi kemunculan startup kian menjamur. Para konsumen tidak serta merta percaya begitu saja.

Baca juga: Sudahkan Anda Siap Membangun Start Up?

Karena itu, tantangan yang gagal ditaklukkan jelas menjadi racun yang bekerja dalam diam. Hantaman serius yang membuat startup hanya hidup seumur jagung. Mungkin di awal mendirikan cukup mudah. Tapi lambat laun menjadi susah pada tahap perkembangan, khususnya mempertahankan.

Terus membakar uang

Sudah menjadi rahasia umum, mendirikan startup butuh modal yang besar. Bahkan banyak yang sengaja menggelontorkan uang untuk menjalankan bisnis dengan siap merugi. Langkah untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

Tetapi strategi ini harus dibatasi waktu yang jelas. Tidak membakar uang terus menerus. Modal di satu titik harus mulai kembali. Jika tidak, bukan saja roda pergerakan terganggu, trust dari pelaku ekonomi (investor) juga minim.

Perpecahan internal

Selain modal uang, startup juga membutuhkan modal lain dalam bentuk yang lain, yakni kekuatan dari dalam. Saling kolaborasi, bahu membahu membangun jaringan bisnis, dan solid. Tidak terjebak pada konflik internal yang mengarah pada perpecahan. Lalu menuntun pada gejala sakit dan pada akhirnya perusahaan bangkrut.

Tak mampu melayani

Hubungan dengan konsumen harus diutamakan. Sekali terjadi pelayanan yang tidak ramah, akan menjadi bumerang. Terlebih kini berita mudah menyebar melalui media sosial dan menjatuhkan citra perusahaan. Apalagi bila komunikasi terus berlangsung buruk dan tidak menghasilkan solusi yang mengena, sakit yang akut makin bisa dipastikan.

Baca juga: Memahami Gaya Kerja Para Milenial

Kurang lihai mengikuti dinamika

Begitu pula dengan kurang lihainya mengikuti dinamika di luar. Minimal mengimbangi gerakan perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama. Dengan menawarkan keuntungan unik atau iming-iming yang menarik pada konsumen.

Ketika startup terus berkutat dengan cara yang sama, masih berjalan dengan cara konvensional, atau tidak mengesankan sesuatu yang baru, bayang-bayang gulung tikar akan lebih cepat datang.

Menyimpang dari visi misi awal

Semua yang terlibat dalam startup wajib menjaga visi misi awal. Khususnya para pemutus kebijakan. Impian yang menjadi landasan berdirinya perusahaan harus diraih. Jika tidak, segala langkah akan menjauhkan dari cita-cita semula. Kalaupun ada yang mesti diubah, misal mengganti bentuk usaha, jajaki terlebih dulu segala kemungkinan. Intinya agar apa yang telah dibangun tidak bubar dan berlalu begitu saja.

Baca juga: Menggenggam Peluang Di Dunia Start Up

Tak punya support system

Startup sangat membutuhkan support system yang memadai. Dukungan dari internal yang mau tak mau harus ada. Serta dukungan dari investor yang sangat berperan dari sisi modal. Belum lagi dukungan dari sisi legal hukum, dan sebagainya. Buruknya dukungan dari salah satunya saja, sudah menjadi mimpi menakutkan bagi keberlangsungan startup. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments