26

Bedanya Hadiah dan Sogokan untuk Anak

Orang tua seringkali memberikan sesuatu pada anak. Sebagai balasan atas prestasi atau dikarenakan yang lainnya. Akan tetapi bedakan hal ini masuk dalam kategori hadiah atau sogokan.

Sama-sama pemberian yang sebenarnya memiliki arti yang berbeda. Hadiah adalah tanda cinta. Sedang sogokan adalah alat manipulasi. Di balik pemberian ada maksud tersembunyi, atau pendeknya, supaya anak menuruti kemauan orang tua. Berbeda pula dalam proses pemberian maupun metodenya.

Demikian pula dengan hasilnya.

Hadiah, dalam kadar yang sehat, tidak akan membuat anak ketergantungan. Dalam arti, melakukan sesuatu tanpa berharap imbalan dari orang tua. Sementara sogokan merangsang anak untuk baru mau bergerak setelah dijanjikan sesuatu.

Hasil yang berbeda ini tentu akan memproduksi efek-efek tak menyenangkan lainnya. Misalnya kemandirian yang tak maksimal, serta minimnya inisiatif pribadi.

Baca juga: Mengajak Anak Akrab Dengan Pekerjaan Domestik

Karena itu, sebelum memberikan sesuatu pikirkan kembali. Jangan asal demi ingin memperoleh hasil yang instan. Memang menyenangkan untuk sekarang, tapi bagaimana dengan masa depan anak yang akan datang.

Ingat tujuan

Ingat kembali tujuan saat orang tua ingin memberikan pada anak. Apakah itu bertujuan demi kebaikan anak sendiri atau didorong keinginan orang tua semata? Bila memang didasarkan pada kebaikan anak, maka bisa disebut sebagai hadiah. Tapi bila terdorong oleh keinginan orang tua saja, maka tergolong sebagai sogokan.

Contoh nyata biasanya terjadi saat ingin anak bertindak sesuai kemauan orang tua. Banyak yang bergegas memberikan sogokan supaya anak mau mengabulkan permintaan.

Ada syarat atau tidak

Lalu, ada syaratnya atau tidak. Bisa dikatakan hadiah jika tidak ada syarat apapun. Orang tua dapat spontan dan kapan saja memberikan. Tanpa harus dilandasi peristiwa tertentu. Beda dengan sogokan. Mesti ada beberapa syarat yang wajib dituruti oleh anak. Misalnya baru mendapat mainan jika meraih peringkat satu atau mau maju ke depan untuk ikut lomba.

Baca juga: Melatih Anak Berpuasa

Apa yang anak butuhkan

Orang tua juga perlu berkaca pada kebutuhan anak. Apakah wujud yang diberikan sudah sesuai dengan porsi anak. Tidak berlebihan, bukan lagi dunianya, atau malah belum waktunya mengonsumsi. Seperti menyesuaikan pada usia atau minat dan bakatnya. Jadi yang diberikan juga tak terasa sia-sia.

Kapan boleh dan kapan tidak

Boleh tidaknya perlu diukur dengan berbagai faktor. Sehubungan dengan momen yang sedang terjadi, waktu pemberian, tujuan, dan lain-lain.

Dalam kasus tertentu, mungkin saja inisiatif pemberian tidak datang dari orang tua, melainkan permintaan dari anak. Maka diskusikan kembali agar menghasilkan tujuan yang optimal. Khususnya saat ada halangan yang membuat orang tua tidak bisa serta merta memberikan saat itu juga.

Baca juga: Bijak Sisihkan Dana Membeli Mainan Anak

Tidak harus berupa barang

Tidak harus berupa barang. Orang tua dapat memberikan dukungan, pelukan hangat, pendampingan, kata-kata positif, dan sebagainya. Hadiah sebagai tanda cinta, yang malah sering mengena pada tumbuh kembang anak, dibanding pemberian barang mahal. Bekasnya mampu mengeratkan hubungan orang tua dan anak. Di samping menyadarkan pada anak bahwa tidak selamanya apreasiasi atas jerih payahnya mesti dihargai dengan materi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments