06

Mengenal Penyakit Autoimun yang Menyerang Banyak Wanita

Akhir-akhir ini, pemberitaan tentang penyakit autoimun cukup marak. Sayangnya nama penyakit ini masih awam. Seluk beluknya belum banyak dikenal. Padahal bisa menyerang siapa saja.

Penyakit autoimun adalah sebutan untuk suatu kondisi sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang pertahanan jaringan tubuhnya sendiri. Jika pada kondisi yang normal, kekebalan tubuh akan memberikan proteksi sepenuhnya dari bakteri dan virus. Akan tetapi pada penyakit autoimun, kekebalan justru menyerang sel, organ, dan jaringan yang sehat.

Alhasil serangan-serangan tersebut membuat tubuh melemah dan perlahan meniadakan fungsinya.

Tubuh akan merasakan kelelahan, kesakitan, dan ketidaknyamanan lainnya. Bahkan banyak yang berujung pada dampak fatal.

Jenisnya juga ada banyak. Namun ada beberapa jenis penyakit autoimun yang sering ditemui di masyarakat. Di antaranya rheumatioid arthritis, giant cell myocarditis, lupus, granulamatosis dengan polyangiitis, multiple sclerosis, addisons disease, dan sebagainya.

Baca juga: Waspadai Diabetes pada Anak

Uniknya, dari beberapa temuan, penyakit autoimun lebih banyak diidap oleh para wanita. Dua kali lipat lebih banyak dibanding pria. Atau di angka 6,4 persen, sedang pria hanya 2,7 persen. Umumnya dimulai saat berusia 15 hingga 44 tahun. Masa subur atau awal kehamilan yang biasanya menjadi penanda penyakit autoimun mulai diderita.

Gejala

Gejala di antara sekian jenisnya umumnya sama. Yakni kelelahan, otot pegal, bengkak dan kemerahan, demam ringan, sulit konsentrasi, kesemutan di tangan dan kaki, rambut rontok, ruam kulit, serta gangguan pencernaan.

Baca juga: Mengapa Anak Mudah Terserang Demam?

Gejala tertentu sangat mungkin dirasakan untuk jenis yang berbeda-beda. Misalnya saja pada pengidap diabetes tipe 1. Terdapat rasa haus yang ekstrem, penurunan atau kenaikan berat badan secara drastis, dan kelelahan.

Sumbernya

Sampai saat ini para peneliti dan ahli kesehatan belum bisa memastikan sumbernya. Namun sebagian mengorelasikan dengan genetika, diet, gender, hormon seks, infeksi, dan paparan bahan kimia sebagai penyebab penyakit autoimun pada seseorang. Sebagai contoh, autoimun lebih banyak menyerang ras Afrika-Amerika dan Hispanik daripada Kaukasia.

Banyak kekhawatiran yang juga dihubungkan dengan pola makan sekarang. Di mana kandungan lemak dan gula tinggi menjadi sumber peradangan, lalu merangsang hadirnya autoimun. Sekalipun belum terbukti benar adanya.

Juga mengenai proteksi berlebihan terhadap kuman dan bakteri. Penggunaan antiseptik yang lebih dari cukup pada anak-anak maupun orang dewasa, justru membuat kekebalan tubuh tidak terlalu peka. Sebaliknya, malah bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang tidak berbahaya.

Pengobatan

Perawatan tidak dapat menyembuhkan penyakit autoimun. Hanya bersifat mengontrol dan menurunkan rasa sakit yang berlebihan. Terutama rasa bengkak, nyeri, kelelahan, dan ruam kulit yang tak tertahankan.

Pengidap autoimun juga akan tetap diberi obat minum. Di antaranya obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Contohnya ibuprofen (Mortin, Advil) dan naproxen (Naprosyn) yang merupakan obar penekan kekebalan tubuh.

Pada masing-masing jenis penyakit autoimun, dibutuhkan pula saran dari ahli yang berbeda. Sesuai dengan penyakit yang menyerang. Sehubungan dengan adanya kemungkinan penambahan obat dan terapi yang menyertai. Selain itu, sejak awal, sangat dianjurkan untuk selalu menjaga pola makan yang sehat dan olahraga yang seimbang. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments