03

Ciri-ciri Persahabatan yang Sehat

Sangat penting menelaah kembali hubungan persahabatan yang selama ini sudah terjalin. Apalagi ketika usia sudah masuk dalam kategori dewasa. Persahabatan yang sehat tidak akan saling merugikan, tapi ada keterikatan mutualisme satu sama lainnya.

Hubungan yang sehat juga tidak akan menghasilkan kerugian pada salah satu pihak. Alias pihak yang lain berperan dominan. Dua orang atau lebih bisa saling melebur, berekspresi bebas, dan tak malu menjadi diri sendiri. Satu sama lain mengetahui kekurangan dan kelebihan, namun tetap menerima sepenuh hati.

Baca juga: Pacaran Sehat dengan Teman Sekantor

Biasanya persahabatan ditemukan oleh rasa kesamaan. Suka akan sesuatu, kecocokan sifat, satu pandangan, prinsip, saling melengkapi, dan sebagainya. Hubungan ditandai dengan intensnya pertemuan. Kalaupun terpisah jarak, kehangatan tetap terbentuk oleh komunikasi.

Akan tetapi kondisi yang sama sewaktu-waktu bisa berubah. Teriring adanya pertambahan usia, status, lingkungan, dan sebagainya. Rentan membuat relasi persahabatan retak. Tak lagi sehat dan membahagiakan seperti sediakala. Karenanya tetap rajut pertemanan, sembari memperhatikan kondisi terbaru yang kini dirasakan.

Nyaman dan membuat bahagia

Hubungan yang sehat ditandai dengan kenyamanan. Setiap momen bertemu sahabat adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Suasananya memberikan rasa kebahagiaan dan kedamaian. Meski barangkali topik yang dibahas bukan obrolan ringan. Menjadi sarana untuk sejenak melupakan beban dan problematika. Lalu meninggalkan kenangan indah yang ingin terus diulang.

Bisa saling percaya

Di antara anggota yang tergabung dalam persahabatan, rahasia pribadi mungkin sudah terbuka. Tapi masing-masing dapat saling menjaga privasi. Tidak ada keinginan atau kesempatan untuk mengungkapkan pada orang lain, atau bahkan sebagai alat menjatuhkan.

Kepercayaan yang terbentuk dengan alami. Kapan dan di mana saja bisa curhat dan mencurahkan masalah. Walau belum tentu mendapat masukan yang berarti, paling tidak sahabat adalah orang terbaik yang bisa membantu.

Baca juga: Cara Jitu Menagih Utang ke Teman

Menghargai kondisi dan pilihan

Persabahatan dipertemukan oleh sesuatu yang sama, namun anggota tetap memiliki karakter yang berbeda. Otomatis ada kondisi dan minat (pilihan) yang berbeda pula. Misalnya pada hobi, gaya berpakaian, atau selera memilih pasangan.

Nah, persahabatan yang sehat akan mengapresiasi itu semua.

Sedia mempersilakan dan membebaskan sahabatnya menikmati itu semua. Tidak ada paksaan atau larangan untuk mendekati hal yang tidak disuka yang lain.

Tidak eksklusif

Sama halnya untuk tidak melarang sahabat berteman dengan orang yang bukan anggota. Sebab masing-masing perlu untuk mengembangkan diri dan menjalin relasi. Sehingga hubungan persahabatan tidak eksklusif. Tidak pula diiringi rasa sakit hati ketika melihat sahabat menghabiskan waktu dengan orang tertentu. Andai suatu saat muncul masalah, ada baiknya konfirmasi terlebih dulu. Bukan langsung menjauhi yang malah meretakkan tali silaturahmi.

Baca juga: Teman Anak Berlaku Kasar? Ini Yang Harus Dilakukan Orang Tua

Tak mesti seragam dan menanggung beban

Persahabatan juga tak mesti seragam dalam segala hal. Lantas wajib sama-sama menanggung beban. Sebagai contoh yang paling sering terjadi membuat aturan harus membantu teman ketika bertemu masalah. Padahal sangat mungkin teman yang lain juga memiliki masalah yang tak kalah peliknya. Tak menghiraukan kebutuhan yang lain, tapi memaksa bantuan bagi diri sendiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments