14

Waspadai Diabetes pada Anak

Diabetes memang ancaman serius bagi siapa saja. Bahkan dunia mewaspadainya dengan menandai 14 November sebagai Hari Diabetes Sedunia. Apalagi kini diabetes juga menyerang anak-anak. Dari tahun ke tahun jumlah penderitanya terus meningkat. Tak heran bila International Diabetic Federation mengusung tema “Family and Diabetic” untuk Hari Diabetes Dunia tahun ini.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, jumlah penderita diabetes anak meningkat cukup pesat dalam lima tahun terakhir. Angka yang cukup mencengangkan, karena peningkatan mencapai 500 persen pada usia 0 sampai 18 tahun.

Karena itu, khususnya orang tua yang telah memiliki anak wajib ekstra waspada pada penyakit ini.

Tipenya sendiri ada dua. Yakni diabetes melitus (DM) tipe 1 dan diabetes melitus (DM) tipe 2. Namun gejala klinis yang dialami anak hampir sama. Di antaranya banyak makan, sering buang air kecil, dan berat badan turun dratis. Selain itu, anak jadi mudah lelah, kulit gatal dan kering, merasa kebal, serta sering kesemutan di area kaki. Bahaya sekali jika gejala tidak segera terdeteksi, sebab diabetes yang terlambat ditangani akan menuju risiko yang fatal.

Diabetes Melitus tipe 1

Secara sederhana, diabetes merupakan penyakit yang disebabkan faktor genetik. Diwariskan akibat orang tua atau garis keluarga memiliki riwayat yang sama. Sifatnya tidak dapat dicegah, sehingga anak yang baru lahir bisa dinyatakan mengidap DM tipe 1. Meski kebanyakan dialami anak umur 7 sampai 12 tahun.

Dalam DM tipe 1, anak akan mengalami gangguan pada pankreas. Bagian pankreas tidak bisa memproduksi insulin yang cukup bagi tubuh. Pada akhirnya, insulin yang seharusnya menyerap dan mengkontrol gula atau glukosa, tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gula darah menjadi naik, lalu sistem kekebalan tubuh terganggu.

Baca juga: Berapa Jumlah Asupan Gula Ideal untuk Penderita Diabetes?

Anak jadi tergantung pada pasokan insulin dari luar. Ironisnya, ketergantungan ini bisa dialami seumur hidup. Umumnya melalui suntikan yang dilakukan setiap hari. Ditambah orang tua perlu mengawasi pola makan anak agar penyakit tidak bertambah parah. Juga menangani emosi anak supaya diabetes tidak mengganggu masa-masa tumbuh kembangnya.

Diabetes Melitus tipe 2

Berbeda dengan DM 1, tipe yang kedua ini sebenarnya lebih mudah dicegah. Tipe kedua ini sebenarnya masih ada pengaruh dari genetik keluarga, namun banyak yang dipicu oleh faktor luar. Terutama gaya hidup dan pola makan.

Jumlah anak yang mengidap DM tipe 2 saat ini juga ditengarai terus merangkak naik. Sebuah penelitian menyebut, anak-anak yang tinggal di negara maju lebih rentan mengalami DM tipe 2. Walau ternyata anak-anak dengan DM tipe 2 di negara berkembang juga tak kalah banyaknya.

Mereka yang mengalami obesitas dan gemar menyantap gula berlebih membuka peluang terjadinya DM tipe 2 lebih besar. Gula berlebihan yang mengendap dalam darah jadi melimpah, membuat insulin resisten.

Orang tua ikut kecipratan efeknya. Pekerjaan besar untuk selalu menjauhkan anak-anak dari sumber diabetes. Salah satunya makanan instan dan mengandung gula buatan berkalori tinggi. Juga mengajak anak aktif bergerak dengan berolahraga supaya terhindara dari obesitas dan gula di darah terkelola. (LAF)

Baca juga: Penanganan Pola Makan Anak Obesitas

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments