12

Ayah Single Parent dalam Mengisi Peran Ibu

Para ayah mempunyai hari spesial. Dirayakan setiap 12 November. Hari Ayah diperingati untuk memberikan penghargaan atas perjuangan dan dedikasinya pada keluarga. Apalagi cerita yang mengintai para ayah juga tak ada habisnya. Seperti bagaimana ayah single parent mengisi peran seorang ibu.

Sebuah perjuangan yang tak kalah sulitnya dengan single mother. Tidak mudah bagi mereka berperan ganda, yakni sebagai kepala keluarga serta seorang ibu bagi anak-anaknya. Terlebih harus mau menggantikan peran yang bersifat keperempuanan dalam aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Jadi Mandiri dengan Cara Ayah

Sebagai orang tua tunggal, para ayah juga dihadapkan pada realita bahwa mereka adalah tulang punggung keluarga. Harus menghabiskan waktu untuk bekerja dan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tetapi ada anak-anak di rumah yang juga menunggu mereka. Tiada yang menemani karena ketiadaan sang ibu. Entah akibat meninggal dunia atau karena perceraian.

Belum lagi jika menyentuh urusan batin. Dalam pola pengasuhan, ibu selalu dikenal lebih dekat pada anak-anak ketimbang ayah. Jadi, para ayah pun dituntut untuk tak perlu malu-malu memerankan hal yang sama. Meski dalam kemasan yang berbeda. Yang terpenting, anak-anak tetap merasa memiliki keluarga yang utuh dan sempurna.

Dekat secara emosional

Maka dari itu, kedekatan secara emosional perlu diutamakan. Ayah tidak boleh membiarkan ada kekosongan yang menganga dalam berhubungan dengan anak.

Sebisa mungkin kedekatan emosional dapat terikat erat meski tidak hadirnya sosok seorang ibu. Jangan sampai anak merasa ayah sebagai orang tua tunggal tidak peduli dengan keadaannya. Sedang sang ayah sendiri sudah merasa cukup dengan mencukupi segala kebutuhan finansialnya semata.

Tak alergi pada hal feminim

Ayah single parent juga bertugas untuk mengenalkan hal-hal yang berbau feminis. Khususnya bila memiliki anak perempuan. Hal yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan tumbuh kembangnya. Serta tetap penting bagi anak laki-laki supaya tidak terasing dengan dunia kewanitaan.

Banyak menghabiskan waktu bersama

Sebisa mungkin untuk sering menghabiskan waktu bersama. Atau paling tidak dengan memanfaatkan waktu yang bisa berkumpul bersama. Misalnya rutin sarapan bersama dan mengantar sekolah di pagi hari. Kegiatan ini dapat diisi dengan ngobrol tentang kebutuhan dan keseharian. Saat weekend menjelang, ayah dan anak bisa berdiskusi mengenal liburan atau permainan asyik yang bisa dijalani sepenuh hati.

Baca juga: Ayah, Berikan Aku Waktumu

Komunikatif dan terbuka

Selain itu diharapkan para ayah mampu komunikatif dan terbuka. Siap membuka ruang diskusi apa saja, walau tentang topik yang tak menyenangkan sama sekali. Ceritakan pula kisah dan masalah dari pihak ayah. Agar anak memahami tantangan apa saja yang mesti dilalui oleh ayahnya sendiri. Dengan demikian, relasi keduanya berjalan hangat. Tidak ada keterasingan dan berjalan satu arah saja.

Jangan hiraukan tradisi yang mengekang

Menjadi ayah tunggal memang sulit. Harus mampu memaksa diri sendiri mendobrak aturan yang barangkali menghambat dan mengekang. Salah satunya tradisi. Tidak ada salahnya untuk menciptakan aturan sendiri di rumah. Tampil berbeda, asal ayah dan anak tetap nyaman, bahagia, damai, dan solid. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments