10

Menjelajah Benteng, Saksi Bisu Perjuangan Para Pahlawan

Indonesia bisa dikatakan negeri yang kaya benteng. Peninggalan penjajah yang sampai sekarang masih berdiri kokoh. Pada Hari Pahlawan, 10 November ini, mari jelajahi, sekaligus berwisata mengenang perjuangan para pahlawan kita.

Baca juga: Kobarkan Nasionalisme Lewat Tempat Bersejarah

Sebagian benteng mungkin telah banyak dikenal. Seperti benteng Fort Rotterdam yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Makassar. Ada pula benteng Vredenburg yang terus ramai oleh pengunjung di Yogyakarta. Di samping itu, masih banyak benteng-benteng yang mungkin tak terlalu tenar, namun sayang jika diabaikan begitu saja.

Apalagi keberadaannya menjadi saksi bisu bagaimana huru-hara perjuangan di kota-kota penting masa lampau. Bila dulu berdiri sebagai pusat ketahanan militer atau kantor pihak kolonial, kini dipelihara sebagai bagian aset budaya yang harus dijaga.

Benteng Belgica

Foto: bandaneira.net

Benteng Belgica ada di Pulau Neira, Maluku. Dibangun pada abad 16 oleh Portugis. Lalu diambil alih oleh VOC. Difungsikan utama untuk mengawasi gerak gerik masyarakat Banda yang menentang keras perdagangan monopoli pala. Serta jenis rempah-rempah yang lain.

Benteng ini masih berdiri amat baik. Pengunjung juga dapat menikmati pemandangan yang luar biasa. Melihat keindahan Pulau Banda Besar yang terpisahkan oleh perairan biru, dan ada deretan bukit yang hijau menenangkan.

Benteng Willem II

Foto: situsbudaya.id

Benteng Willem II berada di Ungaran, Jawa Tengah. Menyimpan histori yang sangat kental. Yakni persisnya sebagai lokasi penjara Pangeran Diponegoro sebelum diasingkan ke Makassar. Benteng ini juga merupakan lokasi pertemuan Pakubowono II dengan Gubernur Jenderal Van Imhoff, guna membahas kepindahan ibukota Mataram saat itu.

Sayangnya keberadaan benteng ini sempat mengalami masalah hak milik. Akan tetapi kabarnya kini mulai terselesaikan dan diharapkan kembali fungsinya sebagai bangunan benteng seutuhnya.

Benteng Erfprins

Foto: situsbudaya.id

Di Bangkalan, Madura juga ada sebuah benteng. Bernama Benteng Erfprins. Sebuah nama yang diambil dari raja Belanda yang berkuasa saat itu (1849), yaitu Willem III atau akrab dipanggil Erfprins. Benteng ini masih bisa dikunjungi. Namun kondisinya cukup memprihatinkan. Beberapa bagian tembok siap runtuh kapan saja, sebagian lagi dijadikan area pemukiman. Serta tercium bau tak sedap pada sebagian sisi.

Benteng Van Der Capellen

Foto: traveldotdetik.com

Lokasinya ada di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Benteng ini pernah menyaksikan peperangan sengit antara kaum agama dan kaum adat yang dibantu oleh Belanda. Sampai kini bangunannya masih kuat, walau ada beberapa yang dipugar.

Benteng Martello

Foto: jakarta-tourism.go.id

Disebut juga dengan nama Benteng Menara. Didirikan pada 1850, ada di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu, dan terbuat dari batu bata. Oleh Belanda digunakan sebagai garda terdepan perlindungan terhadap serangan-serangan yang menuju Batavia. Dulu diperkirakan dibangun di tengah pulau. Kini letaknya ada di pinggir, barangkali akibat pulau mengalami erosi besar-besaran.

Benteng Keraton Buton

Foto: teen.co.id

Lokasinya ada di Bau-Bau, Sulawesi Selatan. Pada 2006 dinyatakan oleh Guinness World Records sebagai benteng terluas di dunia. Dibangun tahun 1597 oleh Sultan Buton III dengan bantuan Belanda. Tentu dengan keinginan tersembunyi, sebagai cara mudah masuk ke Maluku dan menguasai rempah-rempah. (LAF)

Baca juga: Wisata Mistis Yang Bikin Penasaran

 

Foto ilustrasi: Pixabay

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments